Layang Anbiya dan Kisah Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim menjawab, “Jika itu bukan kehendak Sang Hyang, sudahlah tidak perlu.”

Malaikat Mikail pun pergi, dan datanglah malaikat Israfil menawarkan bantuan. “Bagaimana tuan, hamba akan menolong tuan menurunkan hujan dan api akan mati.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nabi Ibrahim tetap menolak jika bukan perintah dari Allah. Terakhir, malaikat Izrail datang dan berkata, “Apa tuan tidak meminta pertolongan kepada Allah ta’ala saat orang kafir membakar tuan?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Mundurlah dari api ini, hanya kasih sayang Sang Hyang yang hamba minta, tidak ada yang lain, Allah sama’ bashir, Maha Mengetahui sakit, mati, dan lainnya.”

Dalam kobaran api, Nabi Ibrahim membaca “qul yaa naarukuuni bardan wa salaman” (wahai api matilah, datanglah dingin, selamatkan Ibrahim). Seketika api pun padam. Semuanya menjadi dingin seolah Nabi Ibrahim berada di tengah taman yang dikelilingi sungai dan pemandangan yang indah, dipenuhi bunga dan buah-buahan.

Melihat keadaan Nabi Ibrahim yang baik-baik saja, Raja Namrud marah besar dan memerintahkan seluruh prajuritnya untuk membunuhnya. Akan tetapi, patihnya memberikan saran kepada Raja Namrud agar lebih berhati-hati kepada Nabi Ibrahim yang dipandang sakti karena sudah bisa memadamkan api, dan kembali hidup-hidup dari kobaran api. Akhirnya, raja pun mengikuti nasihat patih dan menunggu waktu yang tepat untuk melawan nabi Ibrahim.

Suatu ketika, diceritakan seorang putri Raja Syam cantik jelita bernama Dewi Sarah yang tidak mau dijodohkan, dan hanya ingin menikah dengan syarat ada sayembara. Dalam sayembara, disebutkan bahwa barang siapa berhasil menangkap sapu tangan sang dewi, maka ia-lah yang akan menikahi Dewi Sarah.

Akhirnya semua orang berkumpul di lapangan, dan Nabi Ibrahim menyaksikan sayembara itu. Dewi Sarah berada di tengah-tengah lapangan dan melemparkan sapu tangannya, tak disangka sapu tangan itu jatuh tepat di pundak Nabi Ibrahim, sehingga semua orang tahu bahwa yang berhasil memenangkan sayembara sang Dewi adalah Nabi Ibrahim.

Raja Syam berkata kepada Nabi Ibrahim, “Kaulah orang yang berhak menikah dengan putriku.”

“Jika demikian, hamba mau asal agama kita sama. Aku tidak mau jika menikah dengan orang yang menyembah berhala,” jawab Nabi Ibrahim.

Sang raja berkata, “Beraninya kau meminta kami mengubah keyakinan kami!”

Mendengar hal itu, Dewi Sarah memohon kepada ayahnya agar diizinkan mengikuti agama Nabi Ibrahim, karena kalau tidak, Dewi Sarah lebih memilih kehilangan nyawa daripada tidak menikah dengan Nabi Ibrahim. Akhirnya, sang raja iba terhadap putrinya dan mengizinkan sang putrid. Begitu pula, sang raja dan seluruh rakyatnya mengucap syahadat dan mengikuti agama Nabi Ibrahim.

Alur cerita Nabi Ibrahim mulai dilahirkan hingga berhasil menikahi Dewi Sarah dengan memenangkan sayembara tidak diceritakan dalam Islam karena semua itu tidak disebutkan dalam al-Quran. Alur cerita tersebut dituliskan oleh Sunan Drajat dengan ciri khas cerita sastra Jawa tentang kepahlawanan seorang tokoh, dan masyarakat Jawa memang menyukai cerita yang bersifat epos, yang menceritakan kepahlawanan terlihat dari Nabi Ibrahim berhasil keluar dari kobaran api, dan juga sebagai sosok yang memenangkan sayembara berhasil menikahi putri raja dan berhasil mengislamkan raja beserta rakyatnya.

Selain itu, dalam Layang Anbiya masih menggunakan kata Sang Hyang yang dimaksudkan adalah Allah, karena masyarakat Jawa yang masih kental dengan kepercayaan sebelumnya dan sering menyebut tuhannya dengan sebutan Hyang Widi. Jadi, ada proses mengenalkan Allah kepada masyarakat Jawa bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib disembah yang kekuasaannya melampaui Hyang Widi yang selama ini mereka yakini. Sehingga, dengan begitu, masyarakat Jawa dengan lebih mudah mengenal Nabi Ibrahim.

Tinggalkan Balasan