Sang raja dan patihnya segera mencari bayi Patih Najar, dan Allah memerintahkan malaikat membawa anak jin yang telah mati, dibelah dan diletakkan di tanah. Bayi jin itu akhirnya ditemukan oleh patih raja, dan dilaporkan kepada raja. Setelah raja mendengar kabar itu, ia merasa lega dan senang, sementara itu istri patih Najar menceritakan yang sebenarnya dan mengajaknya ke gua untuk melihat anaknya.
Setelah sampai di gua, Patih Najar dan istrinya kagum melihat sang bayi yang bercahaya seperti rembulan. Bayi itu diberi nama Ibrahim dan disembunyikan dalam gua sampa dia remaja, saat dia mulai memikirkan siapa yang seharusnya disembah. Ia kemudian melihat matahari, bulan, dan bintang yang semuanya akan padam pada waktunya.

Kemudian, Allah mengilhamkan kepadanya bahwa Tuhan yang harus disembah hanya Allah. Sejak itu Nabi Ibrahim membenci berhala, padahal ayahnya senang membuat berhala untuk dijual. Tapi, Nabi Ibrahim malah merusak berhala dan mengatakan kepada ayahnya jangan menyembah berhala, tapi ayahnya tetap pada keyakinanya.
Ketika raja ingin menyembah berhala dengan berbagai perayaan, Nabi Ibrahim telah merusak banyak berhala dan hanya menyisakan satu berhala yang paling besar. Saat itu Nabi Ibrahim telah meletakkan kapak di pundak berhala itu sebagai tanda bahwa berhala yang paling besarlah yang merusak berhala lainnya.
Melihat semua itu, raja marah dan bertanya kepada rakyatnya, “Siapa yang berani-berani merusak berhala-berhala ini!”
“Semua orang di kerajaan Babul tidak aada yang berani merusak berhala gusti, ini pasti perbuatan Ibrahim. Hanya dia yang tidak suka dengan berhala.”
“Cepat panggil Ibrahim, suruh dia menghadap padaku!” perintah sang raja.
Setelah Ibrahim menghadap raja, ia bertanya, “Kenapa kau merusak Tuhanku?”
Ibrahim menjawab, “Silakan paduka periksa adakah bukti bahwa aku yang merusaknya? Lihat berhala yang satu itu, dialah rajanya berhala, tanyakan kepadanya, kalau raja berhala itu tidak bisa menjawab, maka ada bukti kapak dipundaknya.”
Sang raja terdiam dan menahan marah. Nabi Ibrahim berkata, “Berhala itu kau yang membuatnya dan diserupakan dengan manusia. Mereka tidak punya penglihatan dan tidak bisa bicara. Berhala-berhala itu hanya Tuhan yang sia-sia. Yang seharusnya disembah adalah Tuhan yang menciptakan dunia dan alam seisinya, yang memberi balasan dan siksa yang disebut sebagai Allah ta’ala, Tuhan yang saya sembah. Masuklah agama Islam kalian semua! Dan ucapkan Laa Ilaaha Illallah, Ibrahim Halilullah.”
Sang raja yang naik darah, dan telah memuncak kemarahannya, berkata, “Semuanya, tangkap Ibrahim! Pegang dia, ikatlah ia pada kayu, aku akan membakarknya hidup-hidup.”
Segala persiapan pembakaran nabi Ibrahim dilakukan. Tumpukan kayu dan minyak sudah tertata hingga waktunya nabi Ibrahim dinaikkan ke atas pembakaran dengan api yang menyala-nyala. Segera malaikat Jibril datang diiringi malaikat lainnya dan menawarkan bantuan.
“Wahai Ibrahim halilullah, engkau sedang dalam kobaran api, selagi nyala api masih di bawah dan belum naik ke tubuhmu, izinkan aku mengepakkan sayapku di laut dan aku bisa memadamkan api ini dengan air dari sayapku.”
Nabi Ibrahim berkata, “Jika itu bukan perintah dari Hyang Sukma, maka jangan lakukan itu.”
Mendengar jawaban Ibrahim, malaikat Jibril pun pergi. Sekarang giliran malaikat Mikail datang. “Wahai tuan, hamba kasihan melihat tuan. Hamba akan mendatangkan hujan dan segera api akan padam, orang kafir akan musnah,” kata malaikat Mikail.
