Lelaki dalam Potret Ibuku

“Sedang apa?” tanya bapak ketika aku sibuk dengan tongkatku.

“Oh. Rusak ya? Ya sudah besok Bapak belikan yang baru.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bapak. Entah sudah berapa kali dia membelikan tongkat penyangga kaki kiriku yang terlalu lemah ini. Sejak kecil, setiap tubuhku bertambah tinggi, tongkat ini terasa tidak cocok lagi. Tongkat ini memang penolongku. Tanpanya aku tidak akan mampu meninggalkan tempat duduk. Ketika sekolah dulu, rasanya pengen sekali ikut teman-teman berlari mengejar bola dan bermain layangan di lapangan. Tetapi apa daya, jangankan untuk berlari, bergeser sedikit saja kaki kiriku tidak mampu menopang berat badan.

“Pagi sekali pak?” tanyaku pada bapak yang sudah siap untuk berangkat ke pasar. Selepas salat Subuh biasanya bapak masih menyempatkan diri untuk minum secagkir kopi dan gorengan ala kadar yang dibuat ibu.

“Hari ini ada kiriman kelapa yang datang lumayan banyak. Bapak harus segera buka kios agar kelapa-kelapa itu dapat dimasukkan,” jawabnya.

Lelaki itu, bapakku, memang sosok pekerja keras. Tanpa kenal lelah dia bekerja di kios kecil yang disewanya untuk berjualan aneka bumbu masakan. Usaha yang katanya dirintis dengan modal seadanya. Bersyukur, sekarang dari hasil jerih payahnya kami dapat makan secara cukup dan bapak tidak perlu bingung setiap tongkatku rusak atau tidak layak pakai lagi.

“Aku tidak ikut ya Pak. Badanku rasanya tidak enak.”

“Istirahat saja. Jangan ke mana-mana. Jika perlu apa-apa minta tolong ibumu. Nanti pulang dari pasar, Bapak bawakan tongkat baru,” lanjutnya sambil mengeluarkan motor butut kami.

“Ini masih bisa dipakai Pak. Bukannya Bapak minggu ini harus membayar perpanjangan sewa kios? Kalau terlambat seperti dua tahun yang lalu, anak buah Pak Karso bisa mengusir kita dari kiosnya. Kalau terjadi, bagaimana Bapak berjualan?”

“Bapak bisa mengatasinya,” jawab bapak.

Ah bapak. Aku ini lelaki yang beranjak dewasa, Pak. Sebentar lagi usiaku 19 tahun. Tapi tetap saja, perlakuanmu tidak berubah seperti ketika kau pertama mengantarku sekolah SD dulu. Selalu perhatian. Seminggu pertama sekolah, bapak tidak berjualan. Dia selalu menungguku di depan gerbang. Jika mendengar ada anak yang mengejekku karena kaki kiriku, bapak selalu datang membela.

Biasanya aku akan ikut bersama bapak ke pasar. Meski tidak banyak yang dapat aku lakukan, setidaknya tahu bagaimana bapak menjalankan usahanya. Aku harus mampu menggantikannya. Walau dengan kaki tak sempurna, aku adalah lelaki. Kelak harus bertanggung jawab dengan keluargaku. Tentu sebisa mungkin harus dapat menjalankan usaha agar dapat menafkahi keluargaku. Salah satu wejangan bapak itu selalu kuingat. “Itu juga jika ada perempuan yang mau sama aku, Pak,” jawabku dalam batin waktu itu.

***

Brak, tanpa sengaja tubuhku menyenggol tumpukan kertas yang ada di rak ketika aku berjalan menuju kamar mandi. Kertas-kertas itu berserakan di lantai. Aku memungut satu per satu. Sebuah foto tua keluar dari dalam tumpukan kertas itu.

Di salah satu ujung foto itu ada bekas terbakar. Nampak seorang laki-laki berdiri dengan gagah di samping seorang perempuan yang duduk dengan anggun. Dari gurat wajahnya aku tahu, perempuan itu adalah ibuku. Tetapi laki-laki itu, terlalu gagah jika dia adalah bapak. Atau mungkin dulu bapak segagah itu sebelum harus bersusah payah menjadi tulang punggung keluarga kami.

“Tidak ada.”

Kata ibu yang aku dengar dari dalam kamar setelah kami selesai makan malam.

“Ibu tidak lupa kan tempat menyimpannya?” tanya bapak.

Tinggalkan Balasan