Lelaki dalam Potret Ibuku

“Tidak. Ibu yakin. Ibu menyimpannya di dalam tumpukan kertas. Ibu tidak pernah memindahkannya.” Suara ibu terdengar panik.

Aku keluar dengan menggunakan tongkat baru yang dibawa bapak sore tadi. “Ibu mencari ini?” tanyaku sambil menunjukkan foto yang tadi siang aku temukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kamu dapat dari mana foto ini?” tanya ibu nampak kebingungan.

“Aku tidak sengaja menemukannya dalam tumpukan kertas yang tadi jatuh,” jawabku. Aku mulai bingung dengan raut muka ibu yang nampak pucat.

“Duduklah Pandu!” perintah bapak. Bapak segera menarik sebuah kursi ke arahku untuk aku duduki. “Ada yang perlu kami sampaikan padamu.”

“Ada apa? tanyaku kebingungan.

***

“Apa pun alasannya, Ibu tidak mau bayi itu pulang ke rumah kita. Apa kata orang nanti. Ibu akan sangat malu.”

Asih yang baru saja siuman setelah melahirkan anak pertamanya, samar-samar mendengar suara ibu mertuanya yang sedang beradu mulut dengan suaminya.

“Turuti ibumu!” suara bapak mertuanya tidak kalah keras.

Asih tidak tahu apa yang terjadi. Mendengar kata “bayi”, Asih menebak bahwa yang dimaksud adalah anak yang baru saja dilahirkannya. Tapi apa yang terjadi. Kalau benar yang dimaksud adalah anaknya, apa masalahnya. Bukannya kemarin ketika mengantarnya ke rumah sakit, kedua mertuanya masih sangat baik padanya. Penuh perhatian pada kandungannya.

Lepas Subuh, suaminya sudah menjemputnya di rumah sakit. “Ayo pulang, dokter sudah membolehkanmu keluar dari rumah sakit.”

Betapa bahagia hati Asih membayangkan akan segera kembali ke rumah mertuanya, mengasuh dan merawat anaknya. Tiba di sebuah pasar, di depan sebuah kios, mobil mewah yang dikendarai suaminya berhenti.

“Kenapa berhenti di sini? Ini terlalu pagi untuk berbelanja. Kios ini juga belum buka?” tanya Asih.

Suaminya hanya diam dan segera membuka pintu sebelah kiri, “ turunlah!”

Tertatih Asih mulai bergeser ke arah pintu. Rasa perih di jalan lahirnya masih terasa sangat menyiksa. Suaminya menuntunnya ke depan kios yang masih tutup itu. Membimbing Asih duduk sambil memangku bayinya.

“Maaf, aku tidak bisa bersama kalian,” ucap suaminya tanpa memandangnya sedikit pun. Segera dia menuju mobil mewahnya dan melaju dengan cepat.

Dalam kebingungan dan kagetnya, Asih tidak mampu berucap. Mulutnya hanya terbuka lebar menatap suaminya yang sudah berlalu.

Tinggalkan Balasan