Bayi dalam dekapannya mulai menangis. Basah popoknya dan rasa tidak nyaman membuat tangisnya semakin kencang. Asih tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ke mana? Bagaimana? Dia tidak tahu. Tidak ada tempat untuk sekadar membuat bayinya dapat tidur dengan nyaman. Dia yang sudah yatim piatu sejak usia 10 tahun, tidak tahu kemana harus meminta belas kasihan. Dia mengenal suaminya ketika bekerja membantu di warung makan dekat proyek miliknya. Lelaki itu kemudian menyunting dan selama setahun terakhir menjadikan ratu dalam rumah yang seperti istana. Kembali ke warung makan itu dan meminta pekerjaan lagi? Dengan bayinya hal itu tidak mungkin.
Semakin siang, perutnya terasa perih karena belum terisi apa-apa. Air susunya pun hampir kering membuat bayinya kekurangan minum. Dia sudah bergeser dari tempat duduk semula karena kios sudah buka dan mulai ramai pengunjung.

Seorang ibu tua yang menjajakan gorengan menghampirinya. Dia bertanya kenapa bayi yang masih merah diajak ke luar rumah. Dengan singkat Asih bercerita kepada ibu tua itu tentang apa yang terjadi setelah subuh tadi.
Mak Roji, sang ibu tua mengajaknya pulang ke rumahnya yang lebih mirip gubuk. Beberapa lembar kain lusuh dikeluarkan dari lemari tuanya. Meski sudah sobek di sana sini, kain itu cukup untuk membuat hangat tubuh bayinya. Mak Roji juga memasakkan sayur bening yang segar untuknya.
Enam bulan sudah Asih tinggal bersama mak Roji. Suatu hari datanglah Parno, tetangga Mak Roji, untuk meminangnya. “Mungkin ini yang terbaik,” ucap Mak Roji. “Akan ada orang yang membantu merawat anakmu. Aku tidak tahu sampai kapan masih dapat meolongmu. Tubuhku semakin renta.”
Asih menerima lamaran Parno. Tidak lama setelah ijab kabul mereka, Mak Roji mengembuskan napas terakhir. Tinggal Parno, Asih, dan anaknya menempati rumah peminggalan Mak Roji.
***
Aku duduk di kursi mengikuti perintah bapak. Ibu masih memandang foto yang tadi aku pegang. Mukanya merah. Nampak trauma dan luka lama yang terasa sangat menyakitkan di raut wajah ibu. Sesaat kemudian ibu menatapku.
Aku kebingungan dengan apa yang terjadi di depanku.
“Pandu!” Bapak memanggil namaku. “Sudah saatnya kau tahu lelaki gagah di dalam protret ini. Dia adalah ayahmu, lelaki yang telah menjadi perantara kehadiranmu di dunia.”
Brak! Terasa seperti ada ombak besar yang menghantam dadaku. Lelaki yang teramat sangat menyayangiku ini, lelaki yang berjuang siang malam untuk menghidupiku, membelaku dari ejekan teman-temanku ini, teryata bukan ayah kandungku.
“Tapi kau tetap Pandu, anak kebanggaanku. Potret itu satu-satunya pengenal tentang dia. Ibumu hampir membakar potret itu karena tidak ingin ada yang mengingatkan padanya. Tetapi aku cegah. Walau bagaimana kau harus tahu.”
“Lalu, di mana laki-laki itu? tanyaku. “Di mana laki-laki yang telah menyia-nyiakan ibuku? Kalau aku yang dibuang, aku bisa terima karena aku memang tidak sempurna. Aku juga tidak pernah mau dilahirkan seperti ini. Tetapi ibuku? Apa salahnya? Jika aku lahir tidak sempurna, bukan karena cetakan rahim ibuku yang salah. Bisa jadi karena dia. Mungkin karena dia terlalu banyak melakukan dosa sehingga aku yang harus menanggung karmanya,” teriakku histeris.
“Sudah Pandu!” Lirih suara bapak membuat hatiku melembut. Ibu hanya diam. Matanya terpejam. Sepertinya luka itu masih membayang.
“Tidak perlu ada yang disesali. Kau sempurna di mata Bapak. Dan kau hidup dalam keluarga yang sempurna. Ada bapak dan ibu yang terus menyayangimu.”
“Di mana dia sekarang?” Nada suaraku semakin meninggi. Hatiku sakit, sakit karena lelaki gagah itu.
Bapak menarik napas panjang. “Pandu, sebenarnya Bapak berbohong padamu tadi pagi. Bapak tidak berangkat ke kios lepas subuh tadi. Tetapi bapak menemuinya. Dia berada di rumah sakit jiwa sekarang. Tiga tahun lalu anak perempuannya yang baru berusia 14 tahun kabur dibawa pacarnya yang sudah beristri. Tidak lama kemudian usahanya bangkrut karena ditipu temannya. Semua hartanya disita bank. Istri dan dua anaknya yang lain pergi entah ke mana. Kedua orang tuanya yang dulu memintanya untuk membuang kalian meninggal seminggu setelah kalian ditinggalkan di depan kios. Semua sudah terbayar lunas. Tidak perlu ada dendam. Bukankah aku sudah menjadi bapak, ayah untukmu selama ini.”
