Lelaki yang Dirajam Mimpi

Hidangan sarapan di depannya sudah mulai dingin, tapi mimpi-mimpi yang pernah dialaminya semakin banyak yang berkelebatan. Mimpi-mimpi itu datang bergiliran, berurutan ke belakang. Berjalan mundur sampai pada guratan yang paling kabur. Di dalam begitu banyak mimpi yang pernah dialaminya itu, kesan yang membekas selalu sama: suatu tempat yang begitu asing namun intim, yang begitu jauh namun terasa dekat, dan di sana selalu bertemu sesosok perempuan yang terasa sudah sangat akrab dengannya tapi tak diketahui siapa jati dirinya.

Di dalam setiap mimpi itu mereka selalu lebih banyak saling bertukar pandang dan senyuman dengan mata berbinar-binar. Kadang kerinduan yang terpendam begitu hebatnya mendorong mereka untuk saling menghambur berpelukan, tapi seperti ada tali yang menjerat kaki-kaki mereka. Dari satu mimpi ke mimpi yang lain, siluet yang berkelebatan sering menunjukkan wajah tunggal. Mereka adalah perempuan yang sama. Tapi ketika lelaki itu meningkatkan konsentrasi dan daya ingatnya, yang datang ternyata wajah-wajah yang beragam rupa. Mereka adalah perempuan yang berbeda. Meskipun begitu ia tetap gagal mengenali mereka, dan gagal pula membangun asosiasi antara siluet-siluet itu dengan wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Kemudian mimpi-mimpi itu semakin menghantui, tapi sama sekali tidak menggelisahkannya. Semakin banyak mimpi yang datang berkelebatan, justru lelaki itu merasakan adanya sensasi yang begitu menentramkan. Sepertinya sudah bertahun-tahun ia merindukan suasana seperti itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kini ia berusaha lebih keras lagi memutar ulang kelebatan-kelebatan mimpi-mimpi yang pernah dialaminya secara perlahan, dengan tenang, dan berulang-ulang. Setiap episode mimpi itu selalu menghadirkan sensasi yang sama. Tapi ketika disadarinya siluet wajah yang berkelebatan dalam mimpi-mimpi itu selalu menghadirkan kesan sosok perempuan yang sama dalam raut muka yang beragam, ia beranjak dari kursinya, memutar nomor telepon menghubungi resepsionis. Ia minta seorang pelayan datang ke kamarnya.

“Tolong, belikan aku potlot dan kertas gambar,” katanya kepada seorang pelayan yang lekas berada di depan pintu kamarnya. Lelaki itu akhirnya membatalkan rencananya untuk mengunjungi tempat-tempat yang menjadi obyek tulisannya. Ia malah melepas sepatunya, menyorongkan hidangan sarapannya ke bawah meja, dan menggelar kertas gambar berwarna putih di atas meja di sudut ruangan. Tangannya mulai memainkan potlot, matanya menerawang, pikirannya jauh menyusup ke dalam mimpi-mimpinya. Ketika berhasil menangkap satu bentuk wajah, ia mulai mencoret-coret kertasnya. Tapi tangannya terasa kaku, sebab sudah sekitar lima tahun lamanya lelaki itu berhenti menggambar, tak lagi melukis. Ia memerlukan waktu untuk melatih tangannya, mengembalikan keterampilan yang pernah dimilikinya. Gambar pertama, berupa sketsa wajah, akhirnya jadi dalam waktu lebih dari dua jam. Tapi bentuknya kasar dan komposisinya jauh dari sempurna. Ia melipatnya, menyobeknya menjadi empat bagian, dan melemparkannya ke keranjang sampah.

Ia mengambil kertas gambar lagi, dan dengan ketekunan yang sama kembali membuat coretan-coretan dengan potlotnya. Kali ini tangannya mulai lincah, menari-nari di atas kertas. Kurang dari dua jam kemudian tangannya berhenti menari, matanya melotot tiada berkedip, dadanya turun naik dengan buasnya. Napasnya berdengusan. Dalam bentuk sketsa, sebuah wajah menatapnya tajam, tapi bibirnya mengulum senyum. Lambat laun sensasi itu datang lagi: ia seperti pernah mengenalnya, entah kapan dan di mana. Tapi ia tetap tidak tahu siapa dia. Ia berdiri, mundur beberapa langkah, terus menatapnya, memeriksanya dari jarak tertentu. Percuma. Yang datang melulu sensasi itu: perempuan itu seperti datang dari tempat dan masa yang begitu jauh, tapi kehadirannya terasa begitu intim. Begitu sublim. Tubuhnya bergidik.

Lelaki itu kembali duduk di kursinya. Menutup wajah dengan dua telapak tangannya. Ia kembali memutar ulang setiap episode mimpinya. Ketika telah menemukan sepotong wajah lagi, ia membeber kertas baru dan mengambil potlotnya. Tangannya kembali menari-nari dengan cepat dan lincah. Sekitar satu jam kemudian lelaki itu diam terpaku. Sebuah sketsa, sebuh wajah. Matanya yang bundar menatapnya lembut. Bibirnya sedikit terbuka, seperti sedangkan mendesiskan sesuatu. Rambutnya tersibak, seperti ada angin yang ingin mengurainya. Gambar yang kedua ini juga menghadirkan sensasi yang sama. Ia kemudian mengambil gambar yang pertama, dan menjejerkannya. Ia berdiri, mundur beberapa langkah. Ia menelitinya, memeriksanya, dan membanding-bandingkannya. Bergantian, pandangan matanya berpindah-pindah dari satu gambar ke gambar yang lainnya. Sekali waktu terlihat sebagai sketsa wajah dari perempuan yang sama. Tapi sesaat kemudian bisa berubah menjadi sketsa wajah perempuan yang berbeda. Meskipun begitu, sensasi yang ditimbulkannya memiliki kekuatan yang sama. Tubuhnya kembali bergidik.

Ketika malam jatuh, di luar gelap semakin pekat, sudah ada enam gambar sektsa wajah yang berjejer di lantai di sisi kanan ranjang. Ia duduk di tepian ranjang. Terus mengamatinya, memeriksanya, membanding-bandingkannya. Kesan yang muncul tetap sama: sekali waktu terlihat sebagai sketsa wajah dari perempuan yang sama, tapi segera saja perbedaan-perbedaan yang terdapat pada masing-masing gambar juga menunjukkan mereka adalah sosok-sosok yang berlainan. Seperti sebelumnya, sampai jauh malam lelaki itu tetap gagal mengidentifikasi mereka.

***

Tinggalkan Balasan