Lelaki yang Dirajam Mimpi

Pagi masih berselimut kabut. Rinai gerimis, sisa hujan semalam, masih menetes-netes di kaca jendela yang terbawa embusan angin. Udara dingin menusuk-nusuk tulang. Tapi lelaki itu lekas mengibaskan selimutnya, bergegas ke kamar mandi untuk membasuh muka, lalu berdiri menghadap jendela. Dari jendela kamar hotel, Jam Gadang masih tampak berdiri dengan anggun, seakan tiada lelah untuk terus mengabarkan eloknya Kota Bukittinggi. Jauh di belakangnya tanah bergelombang, menjadi lembah menjadi bebukitan, dengan petak-petak rumah yang terlihat berimpitan dan bertindihan di bawah rerimbunan pepohonan. Dari jendela kamar hotel ini, daun-daun yang rindang itu masih tampak kelabu oleh saputan kabut.

Lelaki itu kedua tangannya berpegangan pada kisi-kisi jendela, pandangannya lurus jauh ke depan, pada Jam Gadang, pada tanah yang menjadi lembah, pada tanah yang menjadi bebukitan. Tapi pada titik terjauhnya yang tertangkap hanyalah warna kelabu. Dan matanya masih terus mencari-cari. Dan masih saja warna kelabu yang tampak menyelimuti bumi. Ia berharap angin segera berembus lebih kencang atau matahari lekas bergerak naik agar kabut-kabut itu berarak ke lain tempat. Dan dari sana siapa tahu akan muncul siluet-siluet wajah yang bisa dikenalinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Ini hari kedua lelaki itu berada di Kota Bukittinggi. Tapi sama sekali ia belum keluar dari kamar hotelnya. Padahal, ia cuma diberi waktu tiga hari untuk melakukan reportase guna melengkapi naskah perjalanan wisatanya yang akan dimuat di sebuah majalah pariwisata yang telah memesan tulisannya. Sebagai penulis lepas perjalanan wisata, ia telah mengunjungi banyak tempat dan menuliskannya dengan cara yang unik. Berbentuk narasi tematik. Sebab itulah sejumlah majalah pariwisata sering meminta tulisannya. Tulisan terakhirnya sudah hampir rampung. Hanya perlu sedikit tambahan data telusuran jejak sejarah Kota Bukittinggi.

Tapi lelaki itu tak segera mendatangi tempat-tempat yang menjadi tujuannya. Memang, ketika kali pertama tiba, senja yang menyambutnya. Setelah memesan kamar hotel, ia hanya bisa berkeliling di seputaran Jam Gadang, berjalan kaki keluar masuk los-los pasar rakyat, menikmati keriuhan kehidupan malam di kota yang bersejarah ini. Ketika kawasan seputaran Jam Gadang mulai sepi, ia segera kembali ke hotel, dan tidur. Tapi ketika pagi datang bukan waktu yang terasa melemparkannya dari ranjang, melainkan mimpinya semalam. Mimpi dengan guratan yang begitu kuatnya, sehingga ketika sudah terjaga dari tidurnya pun ia merasa masih bisa merabainya sebagai sesuatu yang nyata.

Dalam mimpinya, lelaki itu mengunjungi sebuah tempat. Di mana lokasi tempat itu dan apa namanya, ia tak tahu atau tak ingat. Ia hanya merasa, tempat itu begitu jauh tapi sesaat kemudian terasa sangat dekat. Ia merasa tempat itu begitu asing tapi terasa intim. Keterasingan yang berbaur dengan keintiman itulah yang membuat dadanya berdebar-debar. Ia seperti pernah mengenalnya atau mengunjunginya atau akan mendatanginya, tapi tak ingat persis kapan waktunya. Kadang terasa seperti beberapa waktu lalu. Tapi sesaat kemudian seperti pada masa lampau yang jauh. Dan di tempat itu ia merasa begitu damai, dan bahagia, ketika bertemu seorang perempuan. Usianya mungkin sekitar dua puluh tujuh tahun. Rambut hitamnya jatuh tergerai sampai ke pinggang. Tubuhnya coklat bersih padat berisi. Matanya bundar berkilauan. Dadanya montok. Dan ia sedang hamil tiga bulan. Mereka hanya bercakap-cakap sebentar, dan waktunya lebih banyak digunakan untuk saling bertukar pandang dan senyuman. Mereka seperti orang yang telah bertahun-tahun terpisah dan saling memendam kerinduan yang hebat. Di tempat itu, bersama perempuan itu, lelaki itu merasakan adanya sensasi kedamaian yang luar biasa. Dadanya terus berdebar-debar, dan semakin hebat.

Ketika terbangun, ia masih membawa serta mimpinya itu. Malah terasa semakin nyata. Seakan-akan perempuan itu masih berada di hadapannya, begitu dekatnya, dan ia bisa meraba wajahnya, menyentuh dadanya, mengurai rambutnya. Ketika terbangun, lama lelaki itu hanya duduk diam di tepi ranjang. Ia masih mengenang kuatnya guratan wajah perempuan itu yang kehadirannya terasa begitu intim. Lama ia memikirkannya. Ia merasa seperti pernah mengenalnya, tapi entah siapa. Ia berusaha keras mengingat-ingat wajah orang-orang yang pernah dikenalnya, atau dekat dengannya, tapi tak ada satu pun yang menyerupainya, atau yang sekadar mempertautkannya. Ia terasa sebagai sosok yang asing sekaligus intim.

Ah, akhirnya ia mengibaskan tangannya di depan matanya. Mimpi! Akan mengabur, dan kemudian menghilang begitu saja. Lebih baik ia mengabaikannya. Lalu ia segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seusai mengguyur tubuhnya di kamar mandi, ia menghubungi resepsionis agar sarapannya diantar ke kamarnya. Tapi ketika sarapan telah terhidang di depan matanya, lelaki itu tak segera menyentuhnya. Mimpi itu kembali berkelebatan di depan matanya. Lama tangannya hanya menggengam sendok dan garpu yang bisu. Dan pelan, perlahan-lahan, satu demi satu, waktu seakan bergerak mundur. Ia baru ingat, dan sadar, ternyata ini bukan kali pertama lelaki itu mengalami mimpi seperti ini. Lebih dari sekali. Berkali-kali, bahkan. Tapi ia tak ingat persis. Hanya, semakin ke belakang, guratan mimpi-mimpi itu dirasakannya kian memudar. Samar.

Tinggalkan Balasan