Lelaki yang Dirajam Mimpi

Jauh di belakang Jam Gadang masih tampak kelabu. Tak ada siluet wajah-wajah baru, atau yang bisa dikenalinya, muncul di sana. Yang kemudian berkelebatan adalah mimpi terakhirnya semalam. Mimpi yang nyaris serupa, dan memunculkan sensasi yang sama dengan mimpi-mimpi sebelumnya, dengan keenam sketsa wajah yang masih berjejer di lantai kamarnya. Kelebatan mimpi itu kemudian disusul dengan kilasan sejumlah lukisan yang pernah dibuatnya beberapa tahun lalu. Ia tersentak kaget, dan buru-buru meninggalkan kamar untuk lekas menyelesaikan pekerjaannya.

Lelaki itu melakukan segala sesuatunya serba cepat, bahkan terkesan terburu-buru. Semua tempat yang telah direncanakan untuk dikunjungi, didatanginya meskipun hanya sebentar-sebentar. Bangunan-bangunan tua, bukit-bukit yang rimbun, serta gua-gua bikinan Jepang. Semuanya. Tengah hari ia sudah kembali berada di hotel, mengemas barang-barang bawaannya, menyewa mobil, dan langsung meluncur ke bandara. Menjelang tengah malam ia sudah berada di rumahnya, di tengah belantara Jakarta. Lelaki itu terus menguras tenaganya, merampungkan tulisannya. Menjelang subuh naskah rampung. Tanpa membacanya ulang, ia langsung beristirahat, tidur sekitar dua jam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah mengirimkan naskahnya, ia membuka tas. Gambar-gambar yang dibuatnya di Bukittinggi dikeluarkan. Lelaki itu kemudian membuka satu pintu kamar khusus tempat menyimpan semua lukisannya. Sejak berhenti melukis, jarang sekali ia masuk ke kamar ini. Berpuluh-puluh lukisannya masih tertata rapi seperti semula. Beberapa di antaranya merupakan lukisan model atau potret perempuan. Di depan lukisan-lukisan itu ia berdiri mematung, tapi bola matanya terus bergerak-gerak, berputar-putar. Beberapa saat lamanya lukisan-lukisan itu melemparkannya ke masa lalu: mereka adalah bagian dari kehidupannya yang telah berlalu. Kemudian udara dingin terasa menjalari tubuhnya ketika perlahan-lahan lukisan-lukisan itu kini menghadirkan sensasi, seperti sensasi yang muncul dari mimpi-mimpi itu, dari sketsa-sketsa itu.

Lelaki itu segera membeber dan menjejer sketsanya di lantai, dan matanya berlompatan dari sketsa-sketsa itu ke lukisan-lukisan yang menempel di dinding. Ia mundur beberapa langkah, matanya tak berkedip, terus memeriksa dan membanding-bandingkan lukisan-lukisan model itu dengan semua sketsa yang ada. Benar, semua lukisan dan sketsa itu akhirnya menghadirkan sensasi yang sama. Mereka terlihat sebagai sesosok perempuan yang sama, tapi sesaat kemudian juga menyodorkan bentuk-bentuk wajah dari perempuan yang berbeda-beda. Rasa penasaran bercampur dengan bergidik menjalari tubuhnya. Lelaki itu kemudian menurunkan lukisan-lukisan itu, dan menjejerkannya di samping sketsa-sketsanya. Ia mengatur napasnya, berusaha memeriksanya satu per satu dengan ketenangan dan kecermatan yang luar biasa. Ia merasakan gambar-gambar itu merupakan satu kesatuan yang terpisah-pisah. Hanya berbeda dalam sentuhan. Tapi ia tetap tak yakin dengan kesimpulannya. Ia berniat melakukan eksperimen, membuat satu gambar lagi yang merupakan paduan dari semuanya. Masing-masing lukisan atau sketsa akan diambil dari unsur terpokoknya, atau kesan terkuatnya, atau kesempurnaan komposisinya.

Ia mengambil sisa kanvas kosong namun sudah terbingkai, dan membuka kaleng sejumlah cat minyak yang belum terpakai. Ia menggambar dengan gairah yang menggebu namun dengan ketekunan dan ketelitian yang jitu. Ia menggambar seperti orang kesurupan. Ketika senja tiba tangan lelaki itu berhenti bergerak, lukisan selesai dibuat. Sejurus kemudian lukisan itu sudah diangkatnya tinggi-tinggi, dan dibawanya keluar menuju ruang tamu. Ia menyandarkannya pada dinding dekat pintu. Matanya membelalak, giginya gemerutukan, tubuhnya menggigil keras. Gambar yang sedang ditatapnya dan menatapnya dengan tajam itu adalah ibunya. Dan sesaat kemudian tubuhnya terguncang-guncang. Ia mengguguk. Tak kuasa menahan tangis.

Malam itu juga lelaki itu sudah berada di atas kereta api. Sekarang siluet yang berkelebatan dan yang berkejaran dengan laju kereta api adalah wajah ibunya. Kereta terus melaju ke arah timur menembusi gelapnya malam. Lelaki itu akhirnya kelelahan, kepalanya terkulai di sandaran kursi, matanya terpejam. Ia merasa tubuhnya terguncang pelan. Dilihatnya seorang perempuan memegang bahunya, kemudian mengelus rambutnya. Ia berada di suatu tempat yang dirindukannya. Tempat yang asing tapi terasa intim dengannya. Dan matanya berkaca-kaca ketika menatap perempuan yang baru saja dilukisnya, berdiri anggun di hadapannya.

“Kau terlalu sering menyia-nyiakan mereka, dan itu sama artinya dengan meniduri ibumu sendiri,” perempuan itu bertutur.

Tubuh lelaki itu terguncang keras. Suara klakson yang meraung-raung memekakkan telinganya. Seketika matanya terbuka, membelalak. Tubuhnya menggigil. Kereta api masih melaju kencang ke arah timur menembusi gelapnya malam. Ia menoleh ke jendela. Di sana siluet wajah di lukisannya terus berkejaran dengan laju kereta. Wajah yang sudah sepuluh tahun menyatu dengan tanah, yang hampir selama itu pula ia tak pernah mengunjungi makamnya. Ke arah sanalah, kini, kereta api itu bergerak.

Tinggalkan Balasan