Liberalisasi Perempuan

Lelaki diberikan kebebasan dan perempuan dikungkung batasan. Perempuan dianggap lemah dengan menempatkannya sebagai pembantu lelaki. Lelaki lebih layak diangkat sebagai pemimpin dari segala intitusi atau organisasi yang ada. Perempuan diberikan tanggungjawab seadanya tanpa melibatkannya dalam pengambilan kebijakan.

Dalam instrumen material didesain lebih ribet daripada lelaki. Mulai dari dandan, cara berpakaian, dan atribut lainnya. Lelaki lebih simpel dan memperoleh kenyamanan lebih. Belum lagi aturan perilaku yang banyak diketatkan pada perempuan. Kondisi sosial (lingkungan) yang membentuk peradaban patriarki dari institusi dasar keluarga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Istri menempatkan diri dalam peran kepasrahan. Sehingga dalam keluarga, perempuan dijadikan pendukung atau pembantu kesuksesan atau malah penyebab kehancuran suami (pimpinan keluarga). Lelaki lebih diuntungkan karena perempuan (istri) lebih mudah diatur dan diperintah. Praktik patriarki yang telanjur membudaya menempatkan istri hanya boleh mengurusi persoalan domestik; kasur, sumur, dan dapur. Relasi kuasa yang timpang antara suami dan istri diposisikan pada subordinat di bawah suami.

Posisi penting dalam properti di dunia mayoritas diatasnamakan lelaki. Padahal secara jam kerja produktif, perempuan lebih banyak proporsinya meskipun hasilnya tidak terlihat. Menariknya, perempuan banyak yang tidak menyadari penindasannya.

Dalam semangat perjuangan kesetaraan gender, strata tercipta hanya untuk Tuhan dan hamba-Nya. Perbedaan antar manusia terjadi sebab fungsi dan kedudukannya, selebihnya mempunyai hak dan kewajiban yang sama di mata politik, sosial, budaya, hingga agama. Perjuangan gerakan feminisme adalah mencapai titik keadilan. Meminta perhatian dan keberpihakan untuk ruang perempuan sampai sejajar dengan lelaki. Kesalahkaprahan pemahaman gender adalah dimaksudkan sebagai kodrat. Padahal urusan kodrat adalah sisi seksualitas. Sedangkan gender adalah kesepakatan komunal.

Tugas rumah tangga tidak bisa dilekatkan pada perempuan, sebab urusannya gender (kesepakatan). Ketika suami-istri menyepakati mengenai wewenang hak dan tanggung jawab, maka semua bisa berjalan selaras dan berkeadilan.

Tinggalkan Balasan