Sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa sumber literatur bahwa radikalisme lahir dari semangat yang tinggi beragama, tetapi tidak disertai dengan pengetahuan yang memadai. Dengan kata lain, kurangnya literasi tentang ajaran Islam menyebabkan lahirnya sikap ekstrem dalam beragama. Kesadaran literasi yang rendah memungkinkan tingginya potensi terpapar paham radikalisme.
Seperti pendapat seorang mufassir (Tafsir Al Misbah), M Quraish Shihab, bahwa salah satu penyebab utama munculnya paham radikalisme adalah karena kebodohan. Yaitu, kurangnya kesadaran tentang literasi (ajaran Islam).

Literasi sendiri adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, melek terhadap literasi akan menjadikan manusia memiliki suatu kemampuan dalam mengidentifikasi, mengolah, menerjemahkan, memahami, serta mengkomunikasikan isi dari teks yang terdapat dalam tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi.
Kemampuan dalam memahami serta mengkomunikasikan teks ke dalam konteks kehidupan inilah yang kemudian menjadi kunci utama bagi manusia dalam membuka dan mengungkap rentetan tabir persoalan yang dihadapinya, termasuk dalam menyikapi radikalisme.
Oleh karena itu, kesadaran tentang pentingya literasi bagi umat Islam menjadi sebuah keniscayaan agar dapat memahami ajaran agama dengan sudut pandang yang lebih luas, bukan dengan cara pandang yang sempit.
