Di dalam kehidupan pondok pesantren, kiriman saat dompet kosong dan lemari sudah bersih dari jajan merupakan sesuatu yang menggelisahkan. Apalagi ketika perut mulai lapar, sementara uang tinggal nama dan mencari pinjaman pun sulit. Dalam kondisi seperti itu, kiriman dari rumah rasanya menjadi sesuatu yang sangat dinantikan.
Bagi santri yang rumahnya dekat, kiriman biasanya lebih lancar. Setiap kali liburan sekolah atau ada kesempatan, orang tua mereka bisa dengan mudah mengirimkan uang ataupun makanan. Namun, bagi santri yang rumahnya jauh, lain lagi ceritanya. Nilai kesabaran benar-benar ditempa. Mau tidak mau, harus menunggu kiriman, entah kapan datangnya.

Akhirnya, jalan satu-satunya adalah menunggu teman yang rumahnya dekat mendapatkan kiriman. Syukur-syukur kalau diajak makan.
Namun, justru di situlah salah satu letak keindahan kehidupan pesantren. Kebersamaan dan rasa persahabatan tumbuh begitu erat. Saling membantu menjadi hal yang biasa.
Ketika salah seorang teman mendapat kiriman dari orang tuanya, tidak jarang ia mengajak teman-teman yang lain untuk makan bersama. Begitu pula sebaliknya, ketika giliran kita mendapat kiriman, rasanya kurang lengkap kalau hanya dinikmati sendiri.
Di pesantren, kiriman bukan sekadar tentang uang atau makanan. Lebih dari itu, kiriman sering kali menjadi alasan sederhana untuk duduk bersama, berbagi cerita, tertawa, dan menikmati kebersamaan.
Sebab bagi seorang santri, makanan yang sederhana pun bisa terasa begitu nikmat ketika disantap bersama teman-teman seperjuangan.
Namun, tidak semua santri bisa menikmati kiriman dengan mudah. Ada kalanya kiriman benar-benar terlambat datang, sementara persediaan di lemari sudah habis dan uang jajan tinggal beberapa lembar. Pada saat seperti itulah, sebuah kalimat sederhana sering terdengar di kalangan santri: logika butuh logistik.
Jangankan belajar atau menghafal Al-Qur’an, untuk berpikir sejenak saja rasanya sudah seperti memikul beban lima ton. Kalau perut lapar dan uang jajan mulai menipis, bawaannya ingin bermalas-malasan saja.
