***
“Mas, ngelamun ae. Main bola, yuk!”

Begitulah ajakan seorang teman ketika melihatku sedang melamun. Biasanya, setiap hari Jumat pagi teman-teman bertanding bola,. Ada sedikit bimbang di hati karena memang aku senang banget sama bola dan rasanya ingin mengiyakan. Namun, ada satu hal yang membuat langkahku tertahan: penantian yang tidak bisa ditunda, yaitu menunggu kiriman.
“Sebentar lagi orang tuaku datang. Aku harus menunggu.”
Kalimat itulah yang selalu muncul di kepalaku setiap kali mendapat ajakan bermain ketika sedang menunggu kiriman. Entah sudah berapa lama pikiranku melesat jauh ke rumah, membayangkan kiriman yang tak kunjung datang.
“Duluan saja. Aku masih menunggu kiriman.”
“Oalah, iyo wes.”
Begitulah rasanya menjadi santri yang sedang menunggu kiriman. Ingin beraktivitas bersama teman-teman, bermain, belajar, atau sekadar bercanda, tetapi semuanya terasa tertahan oleh satu hal: logistik yang belum terpenuhi.
Akhirnya, sudut-sudut pondok menjadi tempat untuk menunggu. Bukan karena tidak punya kegiatan, tetapi pikiran sudah terlanjur tertuju pada satu hal: kapan kiriman datang?
