“Alhamdulillah, baik kok, Abi,” jawab istrinya manja. Mereka saling tatap menemukan ketentraman batin masing-masing.
“Oh iya, Abi. Besok akan ada acara salat istisqa bersama. Abi juga diundang ke sana oleh masyarakat.” kata Sulastri mengingatkan suaminya.

“Buat apa kita harus mengikuti salat istisqa, itu kan hanya budaya masyarakat saja? Bukankah semua makhluk hidup di dunia ini sudah dijamin rezekinya,” tukas Badrun sembari menyantap makanan yang dihidangkan istrinya dari menu khas di desanya.
“Apalagi sekarang banyak orang menanam tembakau, pasti mereka tidak merindukan hujan,” lanjutnya.
“Bukan begitu, Abi. Tapi, salat itu memohon agar tidak terjadi kekeringan,” bela Sulastri kepada suaminya.
“Alah, omong kosong dengan salat itu! Coba pikir menggunakan akalmu, kalau salat hanya untuk tujuan itu, nanti akan mengurangi ikhlasmu,” nada bicara Badrun mulai meninggi. Sikap keras kepalanya muncul secara tiba-tiba.
“Jangan bicara begitu, Abi. Bagaimanapun keadaannya kita harus tetap tunduk kepada Tuhan yang Maha Kuasa, harus banyak bersyukur dan memikirkan nasib desa kita agar tidak dilanda kekeringan!” jawab Sulastri memelas, meredakan amarah suaminya sembari membereskan piring sisa makanan suaminya.
“Lebih baik kemarau dari pada tembakau kita menjadi emas hijau yang tidak dilirik pengusaha industri,” Badrun meninggalkan istrinya dan berangkat bekerja kembali ke tengah sawah. Sulastri hanya melongo mengamati tingkat laku suaminya dan menekan dadanya dalam-dalam.
***
Pagi itu Matahari memang mengumbar cerah dari ufuk timur ditemani mendung yang sesekali berlindung di balik atap langit. Badrun duduk di beranda rumahnya, ditemani secangkir kopi dan rokok yang mengepul. Sulastri hanya bisa terbaring di kamarnya karena perutnya sudah membesar dan tidak bisa pergi ke mana-mana. Salah seorang tetangga lewat di samping rumah Badrun seusai melaksanakan salat istisqa dan berhenti di rumah Badrun untuk sekadar becengkrama.
“Aneh, Ra Badrun!” Kiai Salim memulai perckapan.
“Kenapa, Kiai?” tanya Badrun penasaran.
“Banyak orang yang tidak datang ke masjid tadi,” ujar Kiai Salim yang juga seorang sesepuh desa.
“Lalu?” lanjut Badrun.
