“Ini menandakan bahwa masyarakat sudah dirasuki sikap kapitalisme, hanya mementingkan pekerjaan dan uang saja,” jawabnya tegas.
“Alah, itu hanya gara-gara sikap malas mereka beribadah, Kiai!” Badrun meremehkan.

Matahari merambat ke pangkal siang. Mendung menyelimuti langit desa seakan-akan ingin menurunkan hujan yang akan berderai ke segenap penjuru bumi. Badrun tertawa lepas menyaksikan peristiwa yang dirasanya paling lucu selama hidupnya dari perkataan Kiai Salim siang itu. Dengan nada pongah ia menghardik Kiai Salim di hadapannya.
“Haha. Lihatlah, Kiai! Sekarang hujan turun deras!” kata Badrun menggelegar di telinga Kiai Salim.
“Mana mungkin akan terjadi kekeringan, meski tidak salat Allah akan menjamin hidup manusia di dunia, Kiai,” lanjutnya dengan nada sombong. Mendung mengguncang dada Kiai Salim. Ia tidak percaya bahwa Ra Badrun begitu keras hatinya, tidak seperti mertuanya yang sudah meninggal.
***
“Maaf, Ra Badrun. Istri dan anak bapak tidak bisa kami selamatkan,” ucap Dokter Anggi merendah.
“Pulang! Atau saya bunuh kalian!” hardik Ra Badrun menodongkan pisau. Matanya nanar.
Dokter Anggi dan kepala desa beringsut meninggalkan Badrun dan istrinya.
Hujan terus mengguyur desa tiada henti. Masyarakat desa kini mulai menatap Badrun dengan tatapan aneh. Bahkan, ada bisik tetangga yang tersiar membicarakan keadaannya. Badrun bahkan menghiraukannya. Membiarkan mereka berbicara sesuka hati. Tidak ada gunanya protes karena ini adalah bagian dari hidup yang diyakini benar oleh Badrun.
Badrun menatap sawahnya yang mulai membusuk. Tanaman tembakaunya terkena penyakit hama. Kelopak matanya hanya berisi segala macam pikiran dan ketakutan-ketakutan. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil mengingau bersama rokok dan seikat tembakau busuk yang berada di tangannya.
Sehabis subuh hujan masih saja bertandang dan kenangan selama berhari-hari basah kembali dalam ingatan Badrun. Sesekali ia tertawa tanpa sebab yang jelas.
“Kasihan, ya, lora muda yang duda itu,” ujar dua orang gadis desa yang lewat di sampingnya.
