Macan: Ekologi dan Sastra

Manusia adalah bagian dari lingkungan, bukan kekuatan luar yang memberikan dampak dan berbahaya terhadap keberadaan lingkungan. Hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan (hewan, air, tanah dan tumbuhan) justru semakin membumikan budaya Timur yang menganggap bahwa manusia dan lingkungan harus sejajar, tidak menempatkan lingkungan sebagai objek mati yang harus digerus sedemikian rupa. Lingkungan sangat dihormati, dan kemudian lahir mitos tentang kekuatan yang ada di alam semesta, lebih-lebih lingkungan hidup.

Ekologi budaya dalam konteks sastra, lebih terhadap bagaimana manusia melihat pola dan karakteristik wilayahnya. Interaksi antara makhluk hidup dan lingkungan atau manusia dengan hewan harus saling melengkapi. Hal ini tentu diawali dengan pertanyaan tentang dirinya, dan apa yang mesti dilakukan sebagai hewan yang berada di planet bumi?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

SGA dalam cerpen Macan memotret dengan penuh getir. Ia lagi-lagi memposisikan manusia hewan buas dan mengerikan. Lihat bagaimana ketidakberdayaan harimau betina melihat pasangan yang dijagal dan dikuliti di hadapannya.

“…menyaksikan betapa orang-orang kampung itu tetap menguliti pasangannya, dan membawanya pergi dengan mempertahankan agar kepalanya tetap tersambung pada kulit loreng tubuhnya. Katanya bisa menjadi hiasan dinding kantor kelurahan.”

Hanya bermodal ego, manusia bisa bertingkah seenaknya sendiri. Padahal sebagai makhluk hidup yang juga bergantung pada makhluk lain. Bukan malah memangsa hewan, apalagi hanya untuk memenuhi hasrat keindahan di dinding rumah dan kantor, misalnya. Tapi, SGA tidak mau terjebak dalam kekejaman manusia, ia berpandangan lain. Harimau yang kehilangan pasangannya juga mempunyai kesempatan untuk melakukan hal yang sama: membunuh atau membalas dendam.

“Namun, kali ini sudah terlambat.”

Pelan-pelan kita diajak menafsiri apa yang terjadi setelah manusia memangsa sesama makhluk ciptaan Tuhan di bumi. Dan, jangan-jangan kita juga berada di posisi si pemburu, membantai siapapun yang berada di luar kita.

Referensi:
Siswo Harsono, Siswo. 2008. “Kritik Sastra Berwawasan Lingkungan.” Jurnal Ekokritik: Semarang. Undip.
Garrerd, G. 2004. Ecocriticisme. New York: Routledge.
Endraswara, Suwardi. 2016. Ekokritik Sastra; Konsep Teori dan Terapan. Yogyakarta: Morfalingua.

Tinggalkan Balasan