Pohon dalam Perut

Semenjak ibu mengatakan bahwa biji yang tertelan itu akan tumbuh dalam perutnya, lalu menjadi pohon yang dahannya bergoyang-goyang, saban malam keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Tetapi, ia juga yakin ibu tidak mungkin sekadar menakut-nakuti. Ibu sudah tua, tidak ada untungnya menakuti-nakuti anak kecil sepertinya. Ibu juga punya banyak pekerjaan yang lebih penting dari sekadar mengurusi biji delima yang tertelan. Saya sering menemuinya terjaga setiap pukul satu kurang duapuluh menit, ia berjalan lirih ke wastafel sambil memasukkan telunjuknya ke tenggorakan.

“Hey, apa yang kau lakukan, Cil?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia tidak menjawab, bergeming. Di dahinya terdapat bercak-bercak peluh. Dari sorot matanya bisa dilihat bahwa ia hanya ingin memuntahkan isi perutnya. Ia ingin biji delima itu keluar dan gagal tumbuh di dalam. Itu dilakukannya selama seminggu sejak ucapan ibu. Ia terus membayangkan dalam perutnya terdapat pohon delima, semakin tahun beranak-pinak. Sampai tak disangka, perutnya menjadi semacam hutan. Ia terlalu kecil untuk dongeng-dongeng —yang menurut pikiran orang dewasa—tidak masuk akal. Di dalam perut tidak terdapat tanah lapang. Itulah sebenarnya, di dalam sana tidak akan pernah tumbuh pohon delima.

Tetapi, bukan anak kecil namanya jika pikirannya sama seperti orang dewasa. Sementara, ibu seperti manusia yang tak peduli pada apa yang dilakukan bocah lima tahun kurang dua bulan itu. Ibu sengaja tidak menarik ucapannya saat ia menceritakan perihal biji delima yang tidak sengaja tertelan.

“Rasakan itu! Ibu sudah berkali-kali bilang agar tidak makan delima.”

Itu bukan penuh salahnya. Delima di halaman rumah yang ditanam ayah sepuluh tahun lalu sungguh menggoda. Batangnya yang pendek dan bisa dijangkau olehnya adalah penyebab utama. Memang, setiap musim buah, siapa pun akan melihat kembang di pucuk-pucuk delima yang pendek itu, tidak terkecuali anak kecil ibu. Waktu itu, saya melihat ia menjangkau sendiri buah yang merah dan menjatuhkannya ke lantai semen berkali-kali sampai terbelah.

“Cil, sungguh menjijikkan. Buang-buang!”

Ia tetap ngotot, mengambil buah yang terbelah dua. Tangannya yang tidak besar, memilah manik-manik delima dan memasukkan ke mulutnya. Padahal ia sangat gembira, tapi tak disangka tiga bijinya justru tidak dikeluarkan dari mulutnya. Ia mengadu pada ibu di dapur dengan bahasa yang tidak semua manusia paham.

***

Orang tua memang punya banyak cara untuk menyampaikan pesan-pesannya. Dahulu, sewaktu saya seumuran dia, ibu juga melakukan hal yang sama. Hampir setiap hari saya memakan semangka dan sekali bijinya juga tertelan. Ibu mengatakan, kalau biji itu akan tumbuh di perut saya dan menjalar sebagaimana tanaman semangka. Saya sangat ketakutan, seperti yang dialaminya.

Setelah dewasa, saya baru paham kalau itu cara ibu agar saya tidak makan semangka. Sebab, setiap malam setelah siangnya makan semangka kulit saya menjadi panas berlebihan. Dan benar, sesudah perkataan ibu itu, saya tidak lagi makan semangka. Begitulah orang tua menyampaikan pesan-pesannya yang tidak bisa ditangkap anak kecil. Bukannya ditangkap, pesan-pesan justru menjatuhkan anak-anak pada ketakutan. Saya mengalami takut yang berlebihan jika dalam perut saya banyak tanaman semangka yang menjalar bahkan sampai ke usus-usus.

Ayah memang suka pada banyak tanaman, salah satunya delima di halaman itu. Jauh tahun sebelum delima, ayah menggunakan sepetak ladangnya yang sempit untuk menanam semangka. Di saat panen, buah itulah yang saya makan terus-terusan sampai membuat tubuh saya kepanasan. Sekarang, saya berpikir jika tanaman yang dirawat ayah itu semua saya makan buahnya lantas bijinya ikut saya telan tentu dalam perut saya terdapat banyak tanaman. Itu lucu bagi orang dewasa.

Tinggalkan Balasan