Majelis Nyala Purnama Bahas Humanisme Kultural Gus Dur

“Humanisme Gus Dur bukan berakar dari filsafat liberalisme yang menafikan dimensi religius. Sebaliknya humanisme Gus Dur justru bersumber dari nilai, ajaran, dan spirit religiusitas Islam dan berakar pada tradisi Nusantara,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan, melihat Gus Dur sebagai sosok yang mampu menertawakan segala hal, bahkan dirinya sendiri, sebagai cara untuk meruntuhkan sekat-sekat formalitas, dogma, dan perbedaan yang memisahkan manusia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Humanisme Gus Dur mengajarkan bahwa kasih sayang dan penerimaan terhadap sesama, terlepas dari latar belakangnya, adalah inti dari agama dan kemanusiaan. Kelakar dan cerita lucunya yang sering kali nakal dan cerdas, berfungsi sebagai cara untuk melampaui konflik dan membangun jembatan persahabatan.”, tambah

Sementara, saat memberikan orasi, Bondan Kanumoyoso, menegaskan bahwa humanisme kultural Gus Dur berakar pada pandangan bahwa manusia harus diperlakukan secara adil dan bermartabat tanpa membedakan agama, etnis, atau budaya.

Melalui sosok Gus Dur, Ia melihat pentingnya kebudayaan sebagai ruang perjumpaan yang mampu menjembatani perbedaan dan membangun solidaritas sosial.

“Melalui gagasan ini, Gus Dur berusaha meneguhkan Indonesia sebagai rumah bersama, di mana nilai-nilai kemanusiaan menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara,” tuturnya .

One Reply to “Majelis Nyala Purnama Bahas Humanisme Kultural Gus Dur”

Tinggalkan Balasan