Bondan Kanumoyoso berkisah, saat remaja sering diajak oleh Gus Dur keliling dari pesantren ke pesantren serta ziarah ke makam wali-wali Nusantara. “Di antara semua tokoh nasional, Gus Dur bukan hanya seorang presiden, ulama, atau intelektual, melainkan juga seorang humanis sejati. Humanisme ala Gus Dur bukanlah sebuah teori kering, melainkan praktik hidup yang terwujud dalam kelakar dan tindakannya sehari-hari,” tegasnya.
Sementara itu, Putri Gus Dur, Inayah Wahid, saat menyampaikan orasi budaya banyak bercerita tentang sisi personal seorang Gus Dur sebagai ayah kepada anak-anaknya yang sangat santai dan penuh komedi.

Misalnya , Gus Dur sudah hafal Kebiasaan Inayah yang saat mahasiswa sering pulang hampir tengah malam karena ada kegiatan kampus. Namun, pada suatu malam, waktu masih menunjukkan pukul 9 malam, Inayah salam dengan cium tangan kepada ayahnya, Gus Dur langsung tanya, “Lho kok tumben baru jam 9 sudah pulang?” Inayah langsung membalas, “Wong ini malah baru mau berangkat kok,” lalu keduanya tertawa bersama.
Salah satu yang paling dikenang Inayah dari Gus Dur adalah keberpihakannya kepada kelompok lain, terutama kelompok minoritas yang lemah.
“Menurut Gus Dur, sangat banyak orang yang berani berjuang tapi untuk kelompoknya sendiri. Tapi tidak banyak yang berani berdiri di depan untuk membela kepentingan kelompok lain. Itulah yang dilakukan Gus Dur,” kaya Inayah.
Selain orasi budaya, acara Majelis Nyala Purnama juga diisi pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Pembacaan puisi dilakukan oleh Alfian Siagian dan Mahwi Air Tawar. Sedangkan, musikalisasi puisi dilakukan kelompok Swara SeadaNya dan D’Yello. Acara ditutup dengan meditasi bersama yang dipimpin Turita Indah Setyani.

Membincang Gus Dur seakan tidak ada habisnya. Dari masalah natural hingga supranatural. Dari yang kasat mata hingga yg tak kasat mata. Dari yang bersifat mistis, idealis, hingga yang agamis. Gus Dur adalah fenomena guru bangsa yang dimiliki oleh bergan etnis. Subhanallah,,,