Mak, Aku Ingin Berkurban

“Sudah salat?”

“Sudah Mak, tadi setelah ganti baju,” jawabnya sambil mencium tangan emak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak lama kemudian, Pandu sudah naik ke boncengan sepeda milik Ramadhan dan menuju ke rumahnya.

***

Sebelum Asyar, Pandu sudah kembali dengan diantar Ramadhan naik sepeda. Meski kehidupan mereka sangat berbeda, keduanya adalah sahabat dari sejak masuk SD sampai sekarang kelas 4. Bahkan selalu duduk satu bangku.

Ayah Ramadhan seorang juragan beras yang sangat terkenal di kampungnya. Kebaikan hati orang tuanya, menurun ke Ramadhan. Dia selalu baik kepada Pandu. Tidak hanya sekali ini, dia datang untuk menjemput Pandu main ke rumahnya. Ibunya pun sangat pemurah. Beberapa hari lalu datang ke rumah Pandu sambil membawa lima kilo beras. Alhamdulillah, Emak bisa berhemat. Uang yang seharusnya untuk membeli beras bisa digunakan membeli keperluan lain.

***

“Mak, kambing Ramadhan besar banget. Gemuk. Katanya untuk kurban. Senang ya Mak, jadi Ramadhan. Bisa berkurban. Aku juga pengen Mak.”

“Sabar ya, mungkin tahun ini belum bisa. Inshaallah tahun depan mudah-mudahan kita bisa mengumpulkan uang untuk kurban ya, Nak.”

“Tapi Mak, aku ingin kurban sekarang Mak. Kita bisa menggunakan uang di celenganku. Aku juga akan kerja Mak. Kata Ramadhan belum ada orang yang mencarikan rumput untuk kambingnya. Aku mau kerja cari rumput Mak. Ramadhan akan bilang ayahnya, agar membayar rumput yang aku bawa. Uangnya bisa buat tambah beli kambing Mak.

“Nak, harga kambing itu mahal. Uang celengan sama hasil kerja kita belum akan cukup. Sabar ya. Allah juga tidak memaksa hamba-Nya yang belum mampu. Niat untuk berkurban saja sudah menjadi amal baik yang dapat pahala. Pandu harus rajin berdoa. Agar tahun depan bisa membeli kambing untuk kurban.”

Raut muka Pandu tiba-tiba berubah menjadi sedih. Keinginannya untuk berkurban tahun ini sepertinya akan gagal. Andai bapaknya rajin bekerja seperti ayah Ramadhan pasti mempunyai banyak uang.

Meski sudah menjadi juragan, kata Ramadhan, ayahnya selalu bangun sebelum subuh, kemudian selepas sholat segera bekerja. Itu yang membuat usahanya terus maju dan semakin berkembang. Sedangkan dia bernasib berbeda. Bapaknya lebih sering bangun saat dia sudah berangkat sekolah karena setelah shalat subuh, akan kembali tidur.

Selepas pulang sekolah, Pandu sangat senang. Dia langsung menemui emaknya, yang selalu berada di dapur pada jam tersebut.

“Assalamualaikum Mak. Mak, ayah Ramadhan setuju, aku kerja cari rumput. Setiap hari aku akan dapat upah sepuluh ribu. Kan hari raya kurban masih satu bulan, aku akan dapat uang tiga ratus ribu. Cukup belum untuk tambah beli kambing Mak?”

Emaknya tidak menjawab. Hanya menghela napas panjang. Dia sendiri tidak tahu. Berapa uang yang ada di celengan anaknya. Namun dengan tambahan tiga ratus ribu sepertinya belum bisa untuk membeli seekor kambing yang harganya diatas dua juta.

***

Sejak hari itu, setelah pulang sekolah, berganti pakaian dan makan, Pandu langsung ke rumah Ramadhan untuk mengambil karung tempat rumput. Kemudian bersama dengan temannya menuju ladang untuk mencari rumput pakan kambing keluarga Ramadhan.

Ramadhan selalu menemani dengan izin ayahnya. Kedua orang tua Ramadhan sangat kagum pada niat Pandu yang ingin mengumpulkan uang untuk berkurban. Anak sekecil itu, yang hidup dalam keterbatasan tetapi punya niat agar bisa menjalankan perintah agama.

***

“Assalamualaikum Mak, ini aku sudah terima uang dari ayahnya Ramadhan. Jumlahnya tiga ratus ribu,” kata Pandu setelah genap satu bulan bekerja.

Tinggalkan Balasan