Mak, Aku Ingin Berkurban

Emak memaksakan diri untuk tersenyum meski hatinya kecut. Anaknya akan kecewa karena kerja kerasnya belum cukup untuk memenuhi niatnya berkurban. “Alhamdulillah, Nak.”

“Emak simpan ya. Nanti lepas mandi kita buka celengan dan hitung isinya. Semoga dengan tambah uang ini cukup untuk beli kambing. Kata pak guru, waktu kurban tiga hari. Jadi masih bisa beli kambing dan antar ke yang urus di masjid.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Iya, Nak.” Hati emak semakin kecil, tidak tega membayangkan sedihnya Pandu jika ternyata uangnya tidak cukup dan niatnya berkurban bakal batal.

***

“Mak……”

Emak yang sedang menyuapi adiknya terkejut.

“Mak, kok celengan Pandu jadi ringan. Jangan-jangan uangnya hilang, Mak.” Pandu nampak sedih, berjalan ke arah emaknya. Pikiran emaknya semakin tidak karuan. Dia bisa menebak, apa yang sudah terjadi.

Bocah kelas 4 SD itu kemudian membongkar celengan yang terbuat dari kaleng bekas biskuit. Tampak matanya sangat kaget.

“Emak……” tangisnya pecah. “Kenapa uangnya tinggal segini. Ke mana isinya. Bagaimana aku membeli kambing?”

Emak hanya memeluk sambil berucap, “Sabar, Nak. Mungkin saat ini belum saatnya kamu berkurban. Insyallah tahun depan Allah beri kemudahan.”

“Tapi ke mana duitnya Mak? Hilang ke mana? Siapa yang mencurinya?”

Ibu dua anak itu hanya menggeleng. Dia tahu. Ini pasti perbuatan suaminya. Jika tidak mempunyai uang untuk beli rokok, maka celengan anaknya yang menjadi sasaran. Tidak mungkin dia bicara pada Pandu. Pasti rasa kecewanya akan semakin besar.

Keesokan harinya, setelah salat Idul Adha, Pandu langsung bergegas pulang. Dia tidak jadi menemani Ramadhan menuntun kambingnya untuk diantar ke masjid, diserahkan pada panitia kurban. Hatinya masih sangat sedih. Semakin tidak mungkin dia dapat berkurban.

Ibunya pun tidak kalah sedih. Dari mana dia akan mendapatkan uang untuk membeli kambing? Sedangkan keperluan dapur pun sudah semakin menipis.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan. Rupanya Ramadhan, ibu dan ayahnya datang setelah mengetahui Pandu tidak jadi ikut mengantarkan kambing mereka ke masjid.

Setelah didesak oleh ayah dan ibu Ramadhan dengan pertanyaan, kenapa Pandu bersedih, ibunya bercerita. Pandu hanya diam, sambil sesekali menyeka air matanya. Tampak ayah dan ibu Ramadhan saling berpandangan.

“Tenang Pandu. Insyaallah kamu akan bisa berkurban besok. Sekarang, cuci muka dan ikut kami. Bapak akan mengajakmu ke tempat penjualan kambing. Bapak akan memberi hadiah seekor kambing karena kamu sudah membantu kami mencari rumput selama satu bulan ini.

“Tapi pak, uangnya nggak cukup.”

“Pandu, uang yang kemarin kami berikan, simpan saja untuk ibumu. Kita beli kambing dengan uang ayahnya Ramadhan, untuk kamu. Kami memberimu hadiah, jadi kamu bisa berkurban.” Kali ini ibu Ramadhan yang berbicara.

Betapa gembira hati Pandu. Niatnya untuk bisa berkurban akan terlaksana. Tidak lama kemudian mereka pergi ke pasar hewan untuk membeli kambing.

Setelah kembali, Pandu sendiri yang menuntun dan menyerahkannya ke panitia. Ibu dan adiknya, mengikuti di belakang dengan senyum gembira.

Tinggalkan Balasan