Malam Kelam di Tengah Kebun Tebu

Sebuah rumah besar terlihat lengang. Kalau tidak salah istri dari pemilik rumah ini sedang kerja di luar negeri. Hongkong atau Taiwan, atau Arab Saudi, tak tahulah aku. Yang pasti uang kirimannya ke suami lancar. Si suami sendiri kabarnya memanfaatkan betul keberadaan uang dari sang istri. Kabarnya, Astri tetanggaku itu melahirkan anak dari hasil mainnya dengan orang ini. Tak tahulah aku. Mungkin juga Astri main dengan lelaki lain. Aku mengendap-endap di pekarangan belakang rumah. Lampu tak begitu terang terpasang di sudut-sudut luar rumah. Suasana sepi sekali. Orangnya pasti sedang larut dalam mimpi. Tak butuh waktu lama bagiku untuk segera sampai di rumah itu. Dengan alatku kucongkel jendela kamar. Butuh waktu agak lama untukku membukanya. Kampret! Ternyata jendela dipenuhi dengan teralis besi yang cukup kuat. Aku menyerah. Ini tidak mungkin aku teruskan. Dan waktu terus berjalan.

Langkahku terus berderap di senyap malam. Kini aku berjalan melewati jalan sepi yang kanan kirinya dipenuhi tanaman tebu. Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Di tempat rimbun seperti ini jangan-jangan ada ular. Kuurungkan niatku buang air kecil di sini. Aku melanjutkan langkah. Tubuhku terasa semakin payah. Dan belum ada sepeser pun “oleh-oleh” yang kudapat. Di tengah kebun tebu kulihat ada cahaya lampu. Aku terus mendekat. Ternyata sebuah surau kecil. Di sampingnya ada rumah kecil pula. Di samping surau itu ada kamar kecil. Aku bergegas ke sana. Beberapa saat kemudian aku telah selesai buang air. Entah kenapa malam ini aku merasa lelah sekali. Tiba-tiba terbersit di sanubariku untuk mengambil air wudhu. Aku lantas masuk surau untuk salat. Mumpung bulan Ramadhan, pikirku. Aku salat dengan cepat lantas berbaring sebentar. Kutengok rumah kecil di sebelah surau. Jendela kecil tampak terbuka sebagian. Perasaan penasaranku mencuat. Naluriku bergerak cepat. Aku lantas berdiri dan bergerak mendekat. Tampak olehku seorang lelaki tua tidur meringkuk berselimutkan sarung. Ah, apa yang bisa kuperoleh dari rumah seperti ini? Tunggu dulu. Tiba-tiba mataku menangkap sesuatu. Di atas meja kulihat ada uang dua puluh ribu. Aku disergap ragu. Tapi kemudian kubulatkan tekadku. Jendela kubuka sedikit lebih lebar. Dan, ternyata tanganku dapat meraihnya. Uang itu kuambil dan menjadi satu-satunya oleh-olehku malam ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Malam berikutnya aku kembali beraksi. Dan sialnya aku kembali gagal. Bahkan di salah satu rumah aku hampir di tangkap warga yang sedang jaga poskamling. Aku pulang dengan tangan hampa. Malam berikutnya pun aksiku kembali tak mendapatkan apa-apa. Karena teringat suasana damai surau di tengah kebun tebu itu aku kemudian sengaja lewat ke sana. Aku kembali buang air lantas salat seperti yang kulakukan tiga hari sebelumnya. Dan lagi-lagi kulihat jendela rumah kecil itu terbuka sedikit. Karena penasaran pula akhirnya aku kembali ke sana. Dan lelaki tua berselimut sarung itu juga sedang meringkuk. Mataku meneliti keadaan kamar. Kulihat ada selembar uang dua puluh ribuan dan selembar uang tiga puluh ribuan. Aku kembali tergoda. Sebagai bahan pertimbangan kuamati lelaki tua berambut putih yang sedang meringkuk itu lekat-lekat. Tekadku kembali bulat. Lantas kulebarkan jendela dan kuambil uang itu. Aku pulang dengan membawa uang lima puluh ribu. Alhamdulillah.

Malam berikutnya aku kembali beraksi. Rumah janda kaya itu menjadi target utamaku lagi. lagi-lagi sial. Kulihat ada bayangan Si Sarjud lagi di tengah kegelapan. Kali ini kehadiranku sedikit lebih lambat daripada dia. Bayangannya kulihat telah berada di depan rumah Si Janda. Nekat betul dia di bulan Ramadhan seperti ini mau berbuat zina. Karena rasa jengkelku sudah mencapai ubun-ubun aku ambil kerikil di bawah kakiku. Dari kejauhan kulempari carik itu. Karena saking terkejutnya dia lantas berteriak. Dan aku terus melemparinya. Dia ketakutan lantas berlari tunggang langgang. Suara gaduhnya membangunkan tetangga sekitar. Sarjud yang berlari sambil berteriak ketakutan itu akhirnya dikejar warga. Aku lantas pergi. Biarlah carik bejat itu diurusi warganya sendiri. Rumah janda kaya itu pasti sudah tidak aman lagi bagiku. Banyak warga yang sudah bangun. Aku bingung harus beraksi kemana lagi. Sampai kentongan dipukul tiga kali aku belum mendapat apa-apa. Akhirnya aku kembali pulang dengan tangan hampa.

Malam berikutnya aku mampir ke surau tengah kebun tebu itu lagi dan kudapatkan uang seratus ribu. Malam berikutnya aksiku kembali gagal. Dan berikutnya lagi aku mampir ke rumah kecil dekat surau kecil itu. Kudapatkan uang dua ratus ribu. Kejadian ini terjadi terus berurutan seperti itu. Aku merasa sangat janggal. Di malam yang ke sembilan dan ke sepuluh aku berturut-turut datang ke rumah kecil itu. Kali ini aku tidak mampir ke surau terlebih dahulu karena malam masih belum terlalu larut. Tak seperti biasanya, jendela rumah kecil itu tertutup rapat. Begitu pula dengan pintunya. Semua tertutup rapat. Aku berjalan mengelilingi rumah itu. Tapi hasilnya tetap nihil. Hatiku mulai gusar. Kukeluarkan alatku. Tak lupa kututupi mukaku dengan masker seperti anjuran pemerintah itu. Setidaknya aku adalah warga yang taat untuk hal-hal tertentu. Ketika aku sedang sibuk mencongkeli jendela tiba-tiba ada suara orang dari arah belakangku.

“Maaf malam ini pintunya belum aku buka.”

Aku kaget setengah mati mendengar suara orang itu. Kutoleh dia. Ternyata lelaki tua yang biasanya tidur meringkuk itu. Dia memakai sarung dan baju takwa dengan memakai kopiah haji. Sepertinya baru pulang dari surau.

“Tak biasanya tuan datang jam segini. Mari masuk biar kubukakan pintunya,” ucap lelaki tua itu santai.

Aneh sekali. Siapa dia? Kenapa dia begitu tenang melihat kehadiranku? Bukannya takut melihatku dia malah tersenyum dan terlihat ramah padaku. Justru aku yang tiba-tiba merasakan takut. Tubuhku terasa menggigil. Belum pernah sebelumnya aku merasakan ketakutan seperti ini.

Lelaki tua itu membuka pintu dan masuk. Gila, dia melambai ke arahku mengajak masuk ke rumahnya. Aku sangat bingung harus berbuat apa. Tapi dia terus memaksaku. Akhirnya aku ikut masuk rumah kecil dan sederhana sekali itu. Aku dipersilahkan duduk di sebuah kursi kayu reot. Beberapa saat kemudian di datang sembari menyuguhiku air putih dan ubi rebus.

One Reply to “Malam Kelam di Tengah Kebun Tebu”

Tinggalkan Balasan