Malam Kelam di Tengah Kebun Tebu

“Makanlah tuan. Biarkan kuambilkan uangnya.”

Gila! Apa-apaan ini? Kenapa dia memperlakukanku begini rupa?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ambil saja uangnya,” dia memintaku menerima uang di amplop itu. Kulihat mukanya sangat sejuk. Aku ragu, walaupun sebenarnya sangat membutuhkannya. Aku diam, kubiarkan amplop itu teronggok di atas meja.

“Siapa sebenarnya kamu Pak Tua?” aku bertanya memberanikan diri.

“Aku pemilik rumah ini,” jawabnya singkat disertai senyum tulus.

“Lalu kenapa kamu selalu menaruh uang di meja kamarmu itu?” tanyaku lagi.

“Di bulan Ramadhan ini semua amal dilipatgandakan pahalanya. Aku ingin menyodakohkan uang itu, tapi tidak tahu kepada siapa,” tukasnya.

Aku mengernyitkan dahi dan menelan ludah. Kuberanikan diri bertanya sekali lagi. “Lalu kenapa sekarang kau beri aku uang? Tidak tahukah kamu bahwa aku adalah seorang maling?”

“Ya aku tahu kamu maling,” jawabnya dengan tenang. “ Besok  kamu tidak perlu keluar rumah lagi. Uang itu cukup untuk hidup beberapa hari. Tapi, jika suatu saat kamu mampir ke sini lagi kamu tak akan menemukan uang lagi. Seluruh upahku menjaga kebun musim ini telah kutaruh di amplop itu. Silakan bawa pulang dan berikan pada anak dan istrimu.”

Tubuhku terasa gemetar. Rasa takutku berubah menjadi rasa malu. Malam tiba-tiba terasa begitu dingin. Ada semilir angin yang berhembus menembus bilah-bilah papan dinding rumah reot ini. Uang itu kukembalikan dan aku berjanji tak akan maling lagi.

One Reply to “Malam Kelam di Tengah Kebun Tebu”

Tinggalkan Balasan