Malam, Nenek Moyang Pengetahuan

Membaca alam, termasuk legenda di dalamnya, adalah bagian dari proses keilmuan. Dari melihat, memperhatikan, memprediksi, atau bahkan mengkhayal, adalah cikal-bakal terbukanya pengetahuan. Katakanlah, di zaman batu kepercayaan geosentris masih berurat berakar. Bahkan, jika ada yang menyalahi kesepakatan saat itu, maka taruhannya adalah penjara, bahkan nyawa.

“Pengetahuan beranak pinak
dari pengalaman dan khayalan
kami belajar melapangkan ruang penafsiran
belakangan, sarjana-sarjana setelah kami
mencari wahyu-wahyu ilmiah
di laboratorium dan perpustakaan”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Walaupun pada akhirnya yang nyata adalah heliosentris, Matahari sebagai pusat tata surya, maka proses menuju jalan realita ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka saya setuju, jika kurikulum 2013 mengutamakan proses daripada hasil, meski seharusnya hasil juga harus mencerminkan sebuah logika.

Pada bait terakhir puisi M Faizi ini menjelaskan tentang cikal bakal keilmiahan.

“Pengalaman dan khayalan
puisi dan pepindannya
merupakan leluhur kami
nenek moyang ilmu pengetahuan”

Membaca buku puisi M Faizi, akan dibawa ke ruang-ruang kegelapan, malam. Akan mengingatkan kita pada zaman tanpa listrik. Sinar bulan adalah harapan pasti untuk menemani perjalanan malam. Dan masih banyak lagi, pembacaan malam yang akan menjadi kenangan saat ini. Bahkan, anak cucu kita, kemungkinan, sudah tidak dapat menikmati malam seperti yang kita (khususnya saya) pernah alami di masa awal-awal kehidupan dulu.

Tidak hanya itu, menikmati kumpulan puisi ini pembaca diajak untuk bernustalgia dengan malam, berserta segala kisah yang melatarbelakanginya. Di samping juga, perbendaharaan kata yang begitu kasat, hingga kita disuguhi kosa kata baru yang koheren. Benarnya lagi, di pengujung halaman buku ini terdapat perbendaharaan kata yang termaktub, terjabarkan makna dan artinya.

Membaca puisi Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan, saya juga diajak untuk kembali pada memoar puisi D Zawawi Imron. Nenek Moyangku Air Mata adalah salah satu judul puisi Zawawi yang kental di ingatan saya, semasa masih di Pesantren Annuqayah. Kebetulan juga, pemuisi si Celurit Emas ini seringkali diundang untuk mengisi acara sastra di Pesantren Annuqayah. Tentu saja, nenek moyangnya M Faizi berbeda dengan nenek moyangnya Zawai Imron. Kontemplasi makna dan jabaran puitiknya mempunyai kekhasan masing-masing, di samping latar belakang lahirnya puisi-puisi yang dimaksud.

Di pengujung sesobek catatan ini, saya mohon maaf kepada semuanya, tanpa kecuali, utamanya M Faizi sebagai pihak yang terlibat langsung dalam penciptaan puisi ini. Harapan saya, kreativitas sastra Beliau tertular dan terjabarkan dalam jiwa saya. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan