Maka saya di sini mencoba menjadi yang pertama, sebagai penikmat sastra agar tidak dituntut memberikan penilaian, karena saya bukan seorang kritikus atau apresiator sastra. Saya hanya mampu mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman pribadi, terkait dengan sebuah karya sastra.
Bermula dari sebuah kebetulan, seorang teman saya sekitar awal September 2014 bercerita tentang sebuah buku kumpulan puisi. Pengarangnya adalah M Faizi, dengan judul Permaisuri Malamku; Buku Kumpulan Puisi. Saya pun tertarik dengan buku tetsebut, dan Alhamdulillah, saat ini buku yang dimaksud sudah ada di tangan saya.

Pertama kali saya bersinggungan dengan buku ini, ada kesan realitas kehidupan di malam hari. Hubungannya dengan gelap, kelam, purnama, bintang, dan semacamnya. Seperti yang diungkapkan pengarang dalam pengantarnya, meski buku kumpulan puisi ini berbicara “perbintangan”, tetapi bukanlah sebagai buku astronomi, akan tetapi tetap sebagai buku sastra puisi yang harus diperlakukan sebagai lingua puitika.
Salah satu puisi yang saya garis-bawahi, dari beberapa puisi (sebanyak 41 judul puisi) adalah seperti yang saya tulis di atas: Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan.
Membaca puisi ini mengingatkan saya pada masa kecil, ketika listrik masih sebuah khayalan. Pada saat itu, biasanya, malam hari saya dan anggota keluarga lainnya, menggelar tikar di halaman. Menikmati taburan bintang-bintang di langit, atau cahaya rembulan jika pas purnama. Kami biasanya menikmati malam sambil memandang lekat ke cakrawala. Menghitung bintang, atau mencakapkan rasi bintang yang nampak di penglihatan. Dalam bahasa saya (Madura Batuputih), ada bintang karteka, bintang kiblat, ada bintang ngaysongayan, bintang nanggala, dan bintang lainnya. Semua ada dalam percakapan yang seakan tidak berkesudahan.
Dalam puisi Nenek Moyang Ilmu Pengetahuan, saya diingatkan pada salah satu garis cahaya, yang dalam pemahaman kampung saya adalah pana(h). Sebentuk cahaya, yang dalam diskripsi puisi M Faizi ini adalah,
“Kilatan berkas cahaya di langit
melintas rendah sehabis Maghrib
“Seorang malim segera pergi…””
Ya, di kampung saya juga ada kepercayaan seperti itu. Bahwa cahaya yang dalam pemahaman orang dulu bukan meteor, namun sebentuk sihir yang dilepaskan oleh para tukang sihir. Cahaya tersebut terlahir dari sebab ritual seseorang untuk mencelakai orang lain tersebab oleh sesuatu yang tak pasti.
Lalu, ada kala seberkas cahaya
melintas tinggi di jumantara malam
membawa curiga dalam hati
“Itu cerawat yang dibawa setan
seseorang akan buncit perutnya
lalu meninggal dengan sengsara”
Cerita teman-teman saya, juga yang dewasa saat saya masih bocah ingusan, cahaya tersebut berasal dari pisau, beling, paku, dan lainnya, ditaruh dalam sebuah mangkuk, kemudian dibacakan mantra atasnya, dan melesatlah sebagai cahaya pana(h). Jika seseorang melihat cahaya tersebut (cerawat), maka ia harus berteriak ‘pana(h) tae‘, dan dipercaya sihir tersebut tidak akan mempan. Maka, gema ‘pana(h) tae‘ seringkali akan terdengar pada setiap waktu dan kesempatan. Itu dulu, sekarang hal tersebut sudah musnah. Tinggal kenangan.
