Sebut saja Namanya Mbah Ikhlas, seorang kiai kampung yang terkenal di seantero desa, bahkan sampai desa-desa lain. Mbah Ikhlas terkenal sebagai kiai yang pinter nyuwuk (mengobati dengan doa). Beberapa jenis penyakit bisa sembuh berkat doa yang dibaca Mbah Ikhlas. Mbah Bejo, misalnya, penderita sakit kronis yang sudah divonis dokter, ternyata sembuh dan hilang penyakitnya setelah minum air doa yang diberikan Mbah Ikhlas. Pengalaman yang sama juga dialami Wak Kaji Murod, pengidap penyakit gula yang sudah menahun. Sudah puluhan kali berobat ke rumah sakit dan puluhan dokter berganti menangani penyakitnya, tapi Wak Kaji Murod tidak kunjung sembuh, bahkan belakangan menjalar menyerang ginjalnya. Semua penyakit itu hilang setelah minum air doa dari Kiai Ikhlas.
Sudah ratusan orang memiliki pengalaman sama dengan Mbah Bejo dan Kaji Murod. Tak hanya mengobati penyakit, doa Kiai Ikhlas juga terbukti manjur menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi orang-orang yang meminta tolong padanya. Mulai usaha bangkrut, sulit menjcari kerja, sampai berdagang yang macet semua bisa terselesaikan dan berhasil setelah minta doa pada Kiai Ikhlas.

Kemasyhuran Kiai Ikhlas sebagai ahli hikmah yang doanya makbul ini juga terdengar oleh para politisi dan pejabat. Banyak politisi yang datang ke rumahnya untuk minta doa agar terkabul hajatnya. Terutama menjelang pilkada atau pileg. Para pejabat juga sering datang ke Kiai Ikhlas untuk minta doa supaya naik jabatan. Banyak di antara mereka yang berhasil menduduki jabatan tinggi dan menjadi anggota legislatif di berbagai tingkatan.
Meski doanya manjur dan sudah banyak menolong orang, namun hidup Kiai Ikhlas tidak banyak berubah. Rumahnya tetap sederhana, bahkan cenderung tidak layak. Tak ada perabotan yang berharga di dalamnya. Pakaiannya juga sangat sederhana, hanya kopiah tua warna hitam yang sudah kecoklatan, baju putih kumal karena sering dicuci, dan sarung kotak-kotak yang sudah nglunthung (melipat) ujungnya karena tidak pernah disetrika.
Sebenarnya banyak yang ingin membantu Kiai Ikhlas, terutama para pasien yang telah berhasil ditolongnya. Tetapi, dia selalu menolak. Pernah ada seorang pengusaha sukses yang pernah ditolongnya mau membantu merenovasi rumah Kiai Ikhlas supaya lebih layak. Tapi Kiai Ikhlas menolak dan menyarankan agar bantuan tersebut disumbangkan untuk pembangunan masjid di desanya yang sedang dipugar.
Pernah juga ada politisi dan pejabat yang menawari bantuan membangun pondok. “Supaya Pak Kiai punya santri dan ilmunya bisa ditularkan. Sebaiknya Pak Kiai bikin pondok,” usul sang politisi. “Soal bangunannya biar kami yang urus sampai jadi. Pak Kiai tidak usah memikirkan darimana biayanya,” timpal sang pejabat meyakinkan Kiai Ikhlas
“Ah… mboten, kulo mboten saged ngaji, kulo niku isone naming donga. Nek ajeng mbantu nggih teng pondok nopo tiyang fakir mowon sing langkung mbetahaken,” (Nggaklah… saya tidak bisa mengaji, saya ini bisanya cuma berdoa. Kalau memang niat mau memantu yang serahkan saja kepada pesantren atau orang fakir yang lebih membutuhkan), deikian jawab Kiai Ikhlas mantap dan tegas.
Memang, Kiai Ikhlas tidak bisa mengaji. Dia hanya bisa baca al-Quran dan tidak bisa membaca kitab. Dia lebih dkenal sebagai kiai hikmah dari pada kiai ilmu. Meski tidak mengaji, namun masyarakat tetap menganggapnya sebagai orang alim, kerana doa-doanya yang sering diijabah oleh Allah dan laku hidupnya yang sangat menjunjung tinggi sikap zuhud dan wira’i. Bahkan ada sebagian yang meyakini bahwa sebenarnya Kiai Ikhlas itu seorng alim dan bisa baca kitab. Namun karena sikap tawadlu-lah yang membuat dia menutupi kealimannya itu dengan berpura-pura bodoh.
***
