KH Ahmad Mustofa Bisri

Akan tiba nazam nan sunyi hening

Al-Ibriz[1] matan Nusantara nyaring

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Asal muasal kelahiran bening

Ananda sayang, ananda diiring

 

Belas kasih bunda tak terperi

Belaian cinta berdenyut di nadi

Barisan terentang rindu nafiri

Bintang sembilan di langit Kiai

 

Di teduh surau lalu, di tepian jalan asin dan bentangan sawah

sendu pantura tebaran sentir dzikir suluhi subuh harapan

Ahmad Mustofa Bisri dianut, dirindu, ditimang

dikenang Rembang gamang impian.

 

Di ruang tamu tempat menampung yang pilu

Aku pun merajut payang dengan benang sarung kusam

Meski diri tak kuasa menderas cakrawala hidupmu

Tapi di tubir kesunyian, izinkan aku, Mahwi, nyanyikan biru riwayatmu

Mahallulqiyam….

 

Ahmad Mustofa Bisri Kiai

Aku susuri leluhurmu sunyi

Ada senandung nazam emriti

Al-Ibriz berdenyut di lubuk hari

 

Angin jejakmu sepagi kasturi

Asapi lembaran dongeng peri

Anggun menari dendam terpatri

Alangkah lusuh bendera negeri

 

Ada riap merah di beranda

Ada tembang sumbang di nada

Ada irama nyanyian tiada

Alief kusam di baris persada

 

Api menyala di jantung sabda

Angin hembuskan tuga muda

Apa kiranya gandrung didera

Air mata rindu beku di dada

 

Di tepian jubah perenang seputih buih

Membuncah, menggerus perahu perih

Menjadikan bulir tasbih kail pancing lusuh

Berharap riak di atas buncahan gelombang

O, alangkah malang kerlip di jantung petang

 

Di jantung malam majelis terakhir

Di lembar lontar menggema dzikir

Denyut soroganmu suluri takdir

Duhai kiai, aduhai penyair

 

Ahmad Mustofa Bisri penyair

Abjad puisimu terus mendesir

Abaikan ombak teori Amir

Asal-usul diri narasi dzikir

 

Ini puisi tentangmu, Gus Mus[2]

Impian santri fajar berhembus

Irama mengalun seiring tadarus

Iringi senandung kiai Mahrus[3]

 

Sesusun suku kata kalimat

Serat batin mengiris hikmat

Suar suluhi narasi pekat

Sendu kalbu bait keramat

 

Di lapis gelap tangis terdengar

Puisi hidupmu riap bersuar

Negeri sayang, merah berkibar

Negeri sayang putih bersinar

 

Dalam bait puisimu, Petapa

Menggema negeriku, Indonesia

Anyir sengsara rakyat merana

Nyinyir penyair puisi bunga

 

Ahmad Mustofa Bisri pelukis

Alief digurat di kanvas amis

Antara diri dan ormas bengis

Antara Inul[4] dan gamis turis

 

Ahmad Mustofa Bisri mencari

Apatah kiranya gandrung nyeri

Affandi inikah potret negeri

Adakah kuas bersabut duri

 

Ada lukisan cerita misteri

Amplop abu-abu gambaran diri

Ahmad Mustofa Kiai Bisri

Akulah rupiah yang kebiri

 

Bara kisahmu letupan sukma

Berdenyar batin cinta menggema

Baris aksara sulaman purnama

Bait hidupmu sealun seirama

 

Bersulam benang Lateh serabu

Bayangan seribu fajar jejakmu

Berselempang kasih jahitan ibu

Beban di pundak ramuan jamu

 

Dengan puisi jejakmu kususuri

Di ambang sunyi di bentangan hari

Duhai Kiai Ahmad Mustofa Bisri

Dendang nazammu sedia kucari

 

Duhai Kiai Ahmad Mustofa Bisri

Deras riwayatmu sepagi kasturi

Di Negeri Daging dongengan peri

Damai mengalun dendam menari

 

Di tujuh pintu tujuh impian

Di tujuh jalan bersua panutan

Di nun Lirboyo menderas sorogan

Di jantung Krapyak, khusyuk tabarukan

 

Mustofa, ya, Mustofa bin Mbah Kholil Bisri, Bila senja menjelang, senandung kidung, sealun nazam menyesup iringi petang. Dibawanya Mustofa menjumpa para guru dan Kiai, mengaji diri menderas hati.

Mustofa, ya Mustofa, pandangi cakrawala bersuar. Ada awan berarak, ada desau berhembus samar-sesamar dzikir dan sajak. Mustofa pun beranjak, berjalan menuju mimbar. Ada rasa haru membiak di hati mendengar senandung puisi tentang diri.

 

Di jantung malam majelis terakhir

Di lembar lontar menggema dzikir

Denyut sorogan suluri takdir

Duhai Kiai, aduhai penyair

 

Engkau, Mustofa, menangis perih

Enggan terbang di bintang masyaih

Epos leluhur di nisan putih

Enggan dilumur darah beserpih

Tinggalkan Balasan