Akan tiba nazam nan sunyi hening
Al-Ibriz[1] matan Nusantara nyaring

Asal muasal kelahiran bening
Ananda sayang, ananda diiring
Belas kasih bunda tak terperi
Belaian cinta berdenyut di nadi
Barisan terentang rindu nafiri
Bintang sembilan di langit Kiai
Di teduh surau lalu, di tepian jalan asin dan bentangan sawah
sendu pantura tebaran sentir dzikir suluhi subuh harapan
Ahmad Mustofa Bisri dianut, dirindu, ditimang
dikenang Rembang gamang impian.
Di ruang tamu tempat menampung yang pilu
Aku pun merajut payang dengan benang sarung kusam
Meski diri tak kuasa menderas cakrawala hidupmu
Tapi di tubir kesunyian, izinkan aku, Mahwi, nyanyikan biru riwayatmu
Mahallulqiyam….
Ahmad Mustofa Bisri Kiai
Aku susuri leluhurmu sunyi
Ada senandung nazam emriti
Al-Ibriz berdenyut di lubuk hari
Angin jejakmu sepagi kasturi
Asapi lembaran dongeng peri
Anggun menari dendam terpatri
Alangkah lusuh bendera negeri
Ada riap merah di beranda
Ada tembang sumbang di nada
Ada irama nyanyian tiada
Alief kusam di baris persada
Api menyala di jantung sabda
Angin hembuskan tuga muda
Apa kiranya gandrung didera
Air mata rindu beku di dada
Di tepian jubah perenang seputih buih
Membuncah, menggerus perahu perih
Menjadikan bulir tasbih kail pancing lusuh
Berharap riak di atas buncahan gelombang
O, alangkah malang kerlip di jantung petang
Di jantung malam majelis terakhir
Di lembar lontar menggema dzikir
Denyut soroganmu suluri takdir
Duhai kiai, aduhai penyair
Ahmad Mustofa Bisri penyair
Abjad puisimu terus mendesir
Abaikan ombak teori Amir
Asal-usul diri narasi dzikir
Ini puisi tentangmu, Gus Mus[2]
Impian santri fajar berhembus
Irama mengalun seiring tadarus
Iringi senandung kiai Mahrus[3]
Sesusun suku kata kalimat
Serat batin mengiris hikmat
Suar suluhi narasi pekat
Sendu kalbu bait keramat
Di lapis gelap tangis terdengar
Puisi hidupmu riap bersuar
Negeri sayang, merah berkibar
Negeri sayang putih bersinar
Dalam bait puisimu, Petapa
Menggema negeriku, Indonesia
Anyir sengsara rakyat merana
Nyinyir penyair puisi bunga
Ahmad Mustofa Bisri pelukis
Alief digurat di kanvas amis
Antara diri dan ormas bengis
Antara Inul[4] dan gamis turis
Ahmad Mustofa Bisri mencari
Apatah kiranya gandrung nyeri
Affandi inikah potret negeri
Adakah kuas bersabut duri
Ada lukisan cerita misteri
Amplop abu-abu gambaran diri
Ahmad Mustofa Kiai Bisri
Akulah rupiah yang kebiri
Bara kisahmu letupan sukma
Berdenyar batin cinta menggema
Baris aksara sulaman purnama
Bait hidupmu sealun seirama
Bersulam benang Lateh serabu
Bayangan seribu fajar jejakmu
Berselempang kasih jahitan ibu
Beban di pundak ramuan jamu
Dengan puisi jejakmu kususuri
Di ambang sunyi di bentangan hari
Duhai Kiai Ahmad Mustofa Bisri
Dendang nazammu sedia kucari
Duhai Kiai Ahmad Mustofa Bisri
Deras riwayatmu sepagi kasturi
Di Negeri Daging dongengan peri
Damai mengalun dendam menari
Di tujuh pintu tujuh impian
Di tujuh jalan bersua panutan
Di nun Lirboyo menderas sorogan
Di jantung Krapyak, khusyuk tabarukan
Mustofa, ya, Mustofa bin Mbah Kholil Bisri, Bila senja menjelang, senandung kidung, sealun nazam menyesup iringi petang. Dibawanya Mustofa menjumpa para guru dan Kiai, mengaji diri menderas hati.
Mustofa, ya Mustofa, pandangi cakrawala bersuar. Ada awan berarak, ada desau berhembus samar-sesamar dzikir dan sajak. Mustofa pun beranjak, berjalan menuju mimbar. Ada rasa haru membiak di hati mendengar senandung puisi tentang diri.
Di jantung malam majelis terakhir
Di lembar lontar menggema dzikir
Denyut sorogan suluri takdir
Duhai Kiai, aduhai penyair
Engkau, Mustofa, menangis perih
Enggan terbang di bintang masyaih
Epos leluhur di nisan putih
Enggan dilumur darah beserpih
