Aku penasaran dengan kiai yang satu ini. Diam-diam aku mencoba menyelidiki, dari mana Kiai Ikhlas ini mendapat ilmu. Kepada siapa dia berguru dan amalan apa yang dilakukan sampai Allah memberikan kelebihan yag hebat itu kepadanya. Aku bukan curiga dia menggunakan ilmu hitam atau menggunakan bantuan jin (rewangan), karena yang aku lihat praktik doa yang diucapkan serta ritual yang dilakukan benar-benar mencerminkan laku tasawuf dan sesuai syariah.
Akhirnya aku bertemu Habib Ahmad, seorang mursyid tarekat yang alim dan memiliki banyak murid. Bib Ahmad tahu persis sejarah dan proses perjalanan hidup Kiai Ikhlas mulai dari awal hingga menjadi seorang ahli hikmah yang sangat terkenal itu.

“Kiai Ikhlas itu orang hebat…,” kata Habib Ahmad waktu saya bertanya tentang Kiai Ikhlas. “Beliau itu awalnya santri yang sederhana dan lugu. Dia bukanlah santri yang berkecukupan, baik secara materi maupun ilmu. Tapi dia memiliki tekad yang besar untuk belajar agar hidupnya bisa bermanfaat bagi orang lain, bisa menolong banyak orang,” demikian kata Bib Ahmad memulai ceritanya.
“Akhirnya berjumpalah dia dengan guru kami, sang Mursyid Agung dan menyampaikan hajadnya,” cerita Bib Ahmad lebih lanjut.
Sang Mursyid Agung memandangi pemuda Ikhlas yang lugu itu dengan sorot mata tajam kemudian berkata: “Kamu baca saja istighfar serratus kali, sholawat seratus kali, dan fatehah tujuh kali,” kata sang Mursyid Agung sambil terus menatap tajam Ikhlas. “Sudah, sekarang kamu pulang. Amalkan saja wirid ini setiap selesai salat. Insya Allah hidupmu akan bermanfaat dan bisa menolong banyak orang,” perintah sang Guru.
Tanpa bertanya lebih lanjut, ia langsung pulang, mengamalkan perintah sang guru secara istiqamah, hingga menjadi kiai ahli hikmah yang masyhur. Setelah terkenal, Kiai Ikhlas ingin sowan ke gurunya, sang Mursyid Agung. Kedatangan Kiai Ikhlas membuat majlis heboh, banyak orang berebut ingin salaman, cium tangan dan ngalap barokahnya. Saat memasuki rumah gurunya, dia baru dapat kabar bahwa sang Mursyid Agung sudah meninggal berapa waktu yang lalu.
Untuk menghormati kedatangan Kiai Ikhlas sekaligus mendoakan guru yang sudah meninggal, akhirnya dilaksanakan doa istighatsah. “Pak Kiai, malam ini kita akan melaksanakan istighatsah, membaca doa ijazah yang diberikan oleh Sang Mursyid Agung kepada murid-muridnya,” kata seorang santri senior pada Kiai Ikhlas.
Singkat cerita, pada malam itu dilaksanakanlah istighatsah yang diikuti Kiai Ikhlas dan semua santri di pesantren sang Sufi Agung. Kiai Ikhlas mengikuti dengan khusyu, tapi hatinya bertanya, katanya hanya baca doa wirid ijazah sang Guru, kok ini panjang sekali. Tak kuat menahan gejolak hati, akhirnya setelah istighatsah selesai, Kiai Ikhlas bertanya pada kiai yang memimpin istighatsah:
“Ini tadi wirid apa, kiai?”
