Manusia dan Agama di Persimpangan

Agama, bila dijalankan secara tulus, selalu memihak pada manusia yang paling rentan. Sejarah mencatat, hampir semua pendiri agama besar berdiri di pihak orang miskin, tertindas, dan tidak bersuara.

Namun, wajah agama hari ini sering berjarak dari nurani itu. Ia hadir di panggung besar, lengkap dengan pengeras suara dan barisan pengawal, tapi absen di gubuk-gubuk reyot tempat orang lapar menahan perut. Ia ramai di media sosial, tapi sunyi di lorong-lorong sepi tempat orang putus asa menahan tangis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka, pertanyaannya: apakah agama masih setia pada misi dasarnya, atau sudah tersandera oleh ambisi manusia?

Krisis Bersama, Iman Bersama

Dunia hari ini menghadapi krisis yang tidak peduli agama: krisis iklim, krisis pangan, krisis kemanusiaan. Banjir tidak pernah bertanya keyakinan korbannya. Kekeringan tidak memilah sawah orang Islam atau Kristen. Perang tidak memilih peluru untuk umat Hindu atau Buddha.

Krisis ini menuntut solidaritas lintas iman. Agama-agama yang berbeda mestinya berhenti sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar. Sebaliknya, mereka harus mengulurkan tangan untuk merawat bumi yang sama-sama kita pijak.

Agama yang sejati bukan yang sibuk menjaga simbol, melainkan yang berani terjun ke lumpur kemanusiaan. Menyeka air mata, menyelamatkan nyawa, mengembalikan harapan.

Namun, apa yang kita lihat? Di banyak tempat, simbol agama justru dipakai untuk mengeruk suara politik. Rumah ibadah dijadikan panggung kampanye. Doa dipakai sebagai senjata untuk mengutuk lawan. Kitab suci dipotong-potong untuk menguatkan kebijakan yang menindas.

Inilah ironi zaman: agama yang seharusnya melampaui kepentingan sempit justru dipaksa tunduk pada kekuasaan.

Tinggalkan Balasan