Manusia dan Ideologi yang kehilangan Manusia

Di titik inilah kita belajar bahwa ideologi sering mengalami nasib yang sama dengan agama ketika dipahami secara dangkal. Ia berubah menjadi dogma. Ia berhenti menjadi alat untuk memahami kenyataan dan mulai menuntut kenyataan agar tunduk kepadanya, padahal kehidupan tidak pernah sesederhana teori.

Seorang petani yang gagal panen tidak pernah berpikir dalam bahasa dialektika Marx. Seorang ibu yang kehilangan pekerjaan tidaak sedang mempertimbangkan perdebatanantara sosialisme dan kapitalisme. Seorang buruh yang upahnya tidak cukup untuk membeli beras tidak sedang membaca manifestasi sejarah dunia. Mereka hanya ingin hidup. Mereka hanya ingin makan. Mereka hanya ingin masa depan yang sedikit lebih baik daripada hari ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di hadapan kebutuhan yang sederhana itu, sering kali para pemikir justru terjebak dalam bahasa yang rumit. Mereka berdebat tentang sistem sambil melupakan manusia yang hidup di sistem itu. Padahal filsafat, pada mulanya, bukanlah soal memenangkan argumen. Socrates tidak berkeliling Athena untuk mengumpulkan pengikut. Ia berjalan dari pasar ke pasar hanya untuk mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana seharusnya manusia hidup?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah seluruh persoalan bermulan. Sebab manusia tidak hidup di dalam buku teori. Ia hidup dalam kecemasan, cinta, kegagalan, harapan, dan ketidakpastian. Ketika seorang anak menangis karena lapar, ia tidak peduli apakah penyebabnya adalah kegagalan pasar atau kegagalan negara. Yang ia rasakan hanyalah perut yang kosong. Di sinilah sering kali ideologi kehilangan wajah manusianya

Friedrich Nietzsche pernah mengingatkan bahwa manusia memiliki kecenderungan menciptakan berhala. Setelah berhala lama runtuh, manusia akan menciptakan berhala baru. Jika dulu orang menyembah dewa-dewa, maka di zaman modern orang dapat menyembah negara, partai, pasar, bahkan teori.

Kita melihat gejala itu di mana-mana. Ada orang yang percaya pasar akan menyelesaikan seluruh persoalan manusia. Ada pula yang percaya negara harus mengatur seluruh kehidupan manusia. Keduanya sering berbicara dengan keyakinan yang sama mutlaknya. Padahal hidup tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rumus.

Tinggalkan Balasan