Albert Camus, filsuf Prancis yang hidup di tengah tragedi abad ke-20, pernah menyaksikan bagaimana ideologi besar saling bertarung atas nama kemanusiaan. Ia melihat kaum fasis berbicara tentang kejayaan bangsa. Ia melihat kaum komunis berbicara tentang masa depan rakyat.
Namun di antara semua slogan itu, yang paling sering mati justru manusia biasa. Karena itu Camus menolak segala bentuk pemikiran yang mengorbankan manusia demi masa depan abstrak. Baginya, seorang anak yang terbunuh hari ini lebih nyata daripada surga politik yang dijanjikan seratus tahun mendatang.

Barangkali di sinilah pelajaran paling penting dari sejarah modern. Bahwa ideologi seharusnya melayani manusia, bukan manusia melayani ideologi. Bahwa seharusnya teori membantu kita memahami kenyataan, bukan memaksa kenyataan mengikuti teori. Bahwa keadilan tidak lahir dari slogan yang paling keras, melainkan dari kemampuan melihat penderitaan orang lain sebagai penderitaan kita sendiri.
Sosialisme tanpa kemanusiaan berubah menjadi mesin birokrasi. Kapitalisme tanpa kemanusiaan berubah menjadi mesin keserakahan. Nasionalisme tanpa kemanusiaan berubah menjadi kebencian terhadap yang berbeda. Masalah terbesar bukanlah pada ideologinya. Masalah terbesarnya adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk mengkritik ideologi yang diyakininya sendiri. sebab setiap keyakinan yang tidak pernah dipertanyakan pada akhirnya akan berubah menjadi penjara.
Dan mungkin, sebagaimana diingatkan oleh filsuf Martin Buber, kehidupan yang sejati bukanlah hubungan manusia dan sistem, melainkan hubungan antara manusia dan manusia. Karena pada akhirnya sejarah tidak diingat dari teori-teori besar yang ditulis buku. Sejarah diingat dari bagaimana manusia memperlakukan sesamanya. Dan semua manifesto telah usang, ketka semua slogan telah pudar, ketika semua rezim telah berganti, pertanyaan yang tersisa tetap sama:
Apakah kita berhasil menjadi manusia? Ataukah kita hanya menjadi pengikut setia sebuah ide yang kebetulan kita percayai?
