Manusia dan Ideologi yang kehilangan Manusia

“Man is born free, but everywhere he is in chains.” —Jean-Jacquas Rousseau

Kita sering membicarakan ideologi seolah-olah ia adalah rumah yang paling aman bagi manusia. Sejak abad ke-19, berbagai gagasan besar lahir dengan janji yang serupa: membebaskan manusia dari penderitaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Liberalisme menjanjikan kebebasan individu. Nasionalisme menjanjikan identitas kolektif. Sosialisme menjanjikan keadilan ekonomi. Bahkan berbagai gerakan revolusioner lahir dengan keyakinan bahwa sejarah sedang bergerak menuju dunia yang lebih manusiawi. Tetapi sejarah mempunyai kebiasaan buruk: ia sering mengkhianati harapan para pemimpinnya.

Karl Marx membayangkan masyarakat tanpa penindasan kelas. Ia membayangkan dunia ketika manusia tidak lagi menjadi alat produksi bagi segelintir pemilik modal. Baginya, sejarah adalah perjuangan panjang menuju pembebasan.

Namun ketika sosialisme menjadi negara, ketika ide menjadi institusi, dan ketika cita-cita menjadi birokrasi, sesuatu yang aneh terjadi. Yang semuala hendak membebaskan manusia justru kadang membatasi manusia.

Kita menyaksikan bagaimana di beberapa tempat, nama rakyat digunakan untuk membungkam rakyat. Nama keadilan dipakai untuk menghilangkan kebebasan. Nama revolusi dijadikan alasan untuk menciptakan ketakutan. Tentu masalahnya bukan terletak pada cita-cita keadilan itu sendiri. Masalahnya adalah ketika ideologi mulai merasa dirinya lebih penting daripada manusia.

Di titik inilah kita belajar bahwa ideologi sering mengalami nasib yang sama dengan agama ketika dipahami secara dangkal. Ia berubah menjadi dogma. Ia berhenti menjadi alat untuk memahami kenyataan dan mulai menuntut kenyataan agar tunduk kepadanya, padahal kehidupan tidak pernah sesederhana teori.

Seorang petani yang gagal panen tidak pernah berpikir dalam bahasa dialektika Marx. Seorang ibu yang kehilangan pekerjaan tidaak sedang mempertimbangkan perdebatanantara sosialisme dan kapitalisme. Seorang buruh yang upahnya tidak cukup untuk membeli beras tidak sedang membaca manifestasi sejarah dunia. Mereka hanya ingin hidup. Mereka hanya ingin makan. Mereka hanya ingin masa depan yang sedikit lebih baik daripada hari ini.

Di hadapan kebutuhan yang sederhana itu, sering kali para pemikir justru terjebak dalam bahasa yang rumit. Mereka berdebat tentang sistem sambil melupakan manusia yang hidup di sistem itu. Padahal filsafat, pada mulanya, bukanlah soal memenangkan argumen. Socrates tidak berkeliling Athena untuk mengumpulkan pengikut. Ia berjalan dari pasar ke pasar hanya untuk mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana seharusnya manusia hidup?

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan