Hingga lahirlah Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk memperbaiki akhlak manusia, dengan pedoman al-Quran yang diturunkan Allah melalui malaikat Jibril a.s kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur. Barulah satu per satu hal di alam semesta ini tersingkap.
Allah menciptakan Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta, dan ini tedapat dalam surat al-An’am ayat 107:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ
Secara jelas kedatangan manusia, lebih tepatnya Nabi Muhammad SAW, telah ditunggu-tunggu oleh alam semesta. Atau, dengan kata lain, Nabi Muhammad SAW tidak diciptakan jika alam semesta tidak diciptakan.
Tokoh di luar Islam, seperti Galileo, memiliki asumsi bahwa manusia adalah pusat alam semesta tidak sepenuhnya salah. Ini juga sebagaimana diisyaratkan dalam surat al-An’am ayat 97:
وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ ….

Manusia diciptakan sebagai makhluk multidimensi, dia mampu mengarungi alam semesta yang maha luas. Apakah benar begitu? (Saya tidak menemukan jawaban dari pertanyaan ini. Apakah benar atau tidak? Iya atau enggak?)
Terimakasih pak rusdi atas tanggapannya,, disini belum dijelaskan secara luas tentang manusia sebagai makhluk multidimensi,, Insya Allah akan dikupas di tulisan kedua,,
Salam hangat dari Depok pak,,