Mungkin kita lupa pada petuah Sabahat Ali ibn Thalib bahwa anak-anak bukan milik kita, tapi titipan Tuhan yang hanya boleh dididik sesuai keinginan sang pemberi amanat. Mungkin kita lupa pada pernyataan Al-Qur’an bahwa anak-anak kita hanya titipan Tuhan, yang jika kita salah mendidik bisa menjadi sumber fitnah dan kehancuran.
Ada salah kaprah di antara kita, para orang tua. Seakan-akan, sebagai orang tua, tugas dan kewajiban kita adalah membahagiakan anak. Padahal bukan. Tugas kita adalah memberikan pendidikan yang terbaik, memberikan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh-kembang sesuai dengan bakat dan potensi yang telah dikaruniakan Tuhan. Bukan menyuapi mereka dengan kebahagiaan. Apalagi jika makna kebahagiaan itu kita ringkus sedemikian rupa sebagai kelimpahan kemewahan. Percayalah, dengan modal pendidikan yang cukup, dengan ruang berekspresi yang cukup, anak-anak kita akan mencari dan menemukan sendiri kebahagiaan mereka.

Karena salah kaprah itu, kita menganggap bahwa anak-anak kita adalah milik kita, properti kita, yang bisa kita cetak semau-mau kita. Mereka kita besarkan atas dorongan mimpi-mimpi kita atau oleh ambisi-ambisi kita. Bahkan oleh kerakusan kita. Maka yang terlahir adalah generasi yang menjadi bayang-bayang orang tuanya. Tak ada jejak kejatidirian sendiri di dalam diri mereka. Mereka hanyalah bayang-bayang kita, para orang tua.
Mario bukan kasus orang seorang. Begitu banyak anak-anak Indonesia, kini, dibesarkan dengan cara bagaimana Mario dibesarkan. Sejak masih bocah, mereka sudah kita lolohi dengan yang serba kemewahan —yang kita sebut kebahagiaan. Hatta mereka dewasa pun, para orang tua masih merasa perlu untuk mencukupi segalanya: mencarikan pekerjaan, menyediakan rumah tinggal lengkap dengan perabotannya, membelikan kendaraan, bahkan harus meninggalkan warisan sampai ke anak cucu hingga tujuh turunan.
