Banyak dari kita, para orang tua, berasumsi jika anak-anak tak kita carikan pekerjaan mereka akan jadi pengangguran; jika anak-anak tak kita bikinkan rumah beserta perabotannya mereka akan jadi gelandangan; jika anak-anak tak kita belikan kendaraan mereka tak akan sampai ke mana-mana; jika kita tak mewariskan kekakayaan sampai tujuh turunan anak cucu kita akan mati kelaparan.
Sungguh, asumsi seperti itu menghina logika ketuhanan. Tapi Mario dan banyak anak-anak Indonesia lainnya hari-hari ini kita besarkan dengan cara seperti itu —dengan cara menghina logika ketuhanan. Bahwa, membahagiakan anak adalah memberikan segala apa yang mereka mau. Bukan dengan memberikan pendidikan yang benar. Maka, ketika kita menjadi pegawai negeri, menjadi pejabat, menjadi penguasa, kita akan berlaku seperti ayahnya Mario. Dengan segala cara, kita akan menumpuk-numpuk kekayaan untuk diberikan dan diwariskan kepada anak-anak kita agar mereka bahagia.

Ayahnya Mario tak sendirian. Sebab, begitulah kita hari-hari ini dalam mengelola negeri ini. Negeri ini dikelola oleh banyak dari mereka yang rakus akan harta, yang silau dengan kemewahan, yang agamanya adalah kekayaan. Maka, segala cara ditempuh agar kita bisa hidup bermewah-mewah. Kita sudah sampai pada titik untuk melupakan peringatan Ibnu Khaldun: bahwa bermewah-mewah, hidup yang hedonis, adalah senjakala.
Salah satu bagian dari Mukaddimah karya Ibnu Khaldan adalah rekaman runtuhnya banyak negara. Salah satu tanda awal keruntuhan sebuah negara adalah ketika para penguasa atau pengelolanya mulai menjalani hidup hedon, bermewah-mewah melampaui batas. Dan hedonisme itu dibiayai dari pajak rakyat yang memeras keringat di bawah panggang matahari. Ketika rakyat mulai kecewa dan berhenti membayar pajak, keruntuhan sebuah negara pun dimulai. Semoga saja teori Ibnu Khaldun itu tak berlaku untuk kasus Indonesia.
