Masa Depan Islam: Keraguan Toynbee, Optimisme Fazlur Rahman

Kesarjanaan, Etos Keilmuan, dan Kreativitas Berpikir

Realitas semacam itu menuntut adanya usaha bagi kaum Muslim untuk melepaskan kekakuannya. Kekakuan yang sering kali membuat aktivitas kontemporernya terkekang. Dalam konteks ini, upaya mengembangkan ilmu pengetahuan mesti menjadi proyek utama yang kudu dilakukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melalui Muslim Society (1981), Ernest Gellner dengan jeli menilik kekuatan umat Islam dalam menghadapi modernitas sebenarnya terletak pada kualitas kesarjanaannya yang bersemangat. Memugar kembali kualitas kesarjanaan Muslim, mesti menjadi agenda adiluhung yang patut dipikirkan kembali.

Kerja-kerja intelektual Muslim terhadap ilmu pengetahuan berjejak meninggalkan warisan adiluhung yang memiliki sumbangsih besar bagi peradaban modern. Islam pernah memiliki titimangsa gemilang di masa silam berkat dedikasi sarjana Muslim yang begitu getol memikirkan ilmu pengetahuan. Sebut saja Ibn Sina (Kedokteran), al-Khawarizmi (Matematika), Jabir ibn Hayyan (Kimia), Ibn Khaldun yang sejarawan cum sosiolog, dan masih banyak lagi sarjana Muslim yang menjadi pelopor jalan terang ilmu pengetahuan modern.

Sepenggal narasi masyhur ihwal tradisi kesarjanaan Muslim di atas setidaknya perlu diiringi hasrat menggebu meneruskan jejaknya. Jejak kearifan yang tidak saja cukup bermuara di alam pikir, tapi juga mewujud menjadi sebuah tindakan nyata. Kini, umat Muslim kontemporer perlu merenung bahwa tidak ada puncak kejayaan paling memukau di abad modern ini, kecuali puncak kejayaan ilmu pengetahuan. Dengannya, mereka dituntun. Disadarkan pada sebuah keinginan untuk maju bersaing dengan bangsa lain serupa Barat dalam hal ini.

Melalui ilmu pengetahuan, konstruksi paradigma berpikir umat Islam mengalami sublimasi. Memfilter tiap gagasan yang masuk. Tidak gampang tergiur bujuk rayu produk modernitas yang berakibat destruktif. Untuk mencapai tujuan mulia ini, umat Islam tidak cukup berkutat pada tradisi klasik keilmuan Islam. Tetapi dengan pikiran terbuka menerima ilmu pengetahuan modern sebagai pengayaan khazanah intelektual. Dari kekayaan intelektual inilah, secara fungsional nantinya dapat menjawab tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan