Sebab itu, keraguan Toynbee di atas yang ditujukan kepada umat Muslim segera menemukan jawabannya ketika umat Muslim menjadikan kreativitas berpikir sebagai laku hidup. Di satu sisi, untuk menopang kreativitas berpikir itu, mereka memerlukan tradisi klasik keilmuan Islam sebagai penyangga kekukuhan iman. Sebab ilmu pengetahuan modern dan tradisi klasik keilmuan Islam mesti berjalan beriringan dan saling terintegrasi.
Di sinilah penting kiranya memformulasikan kembali pemikiran sang neo-modernis, Fazlur Rahman. Sebagai seorang neo-modernis paling serius dan produktif dewasa ini, Fazlur Rahman banyak memberikan pengaruh signifikan terhadap khazanah intelektual pemikiran Islam, khususnya ihwal kreativitas berpikir. Sebagaimana diurai di atas, kekayaan intelektual yang menghasilkan kreativitas berpikir merupakan senjata menjawab tantangan zaman. Guna menjamin keautentikan kreativitas berpikirnya, usaha memberi responsi kepada tantangan zaman itu harus terlebih dahulu menangkap isi pesan dalam Kitab Suci.

Karena, seperti yang ia tulis dalam Islamization of Knowledge: A Response menjelang kematiannya, umat Islam memiliki kriteria tertentu untuk melangkah, dan kriteria itu dengan sendirinya harus bersumber dari Al-Quran. Pertama, memeriksa kembali tradisi keislaman kita secara kritis di bawah sorotan kriteria dan prinsip itu, merupakan sebuah keharusan. Lalu secara kritis menelaah sosok ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh modernitas. Di samping itu, ia juga mengingatkan bahwa ilmu dalam Islam terwujud untuk memungkinkan kita bertindak.
Tersebab jenjang pengetahuan kreatif akan timbul hanya jika dalam diri kita dijiwai oleh sikap yang hendak ditanamkan Al-Quran. Barulah, lanjut Fazlur Rahman, kita akan mampu membuat apresiasi dan penilaian ihwal baik dan buruknya tradisi Islam dan tradisi Barat. Saat itu pulalah penilaian dan kritik bukan merupakan tujuan akhir, melainkan hanya langkah pertama dalam menemukan pengetahuan baru, yang merupakan tujuan sejati intelektual Islam.
Tentu, ajakan Fazlur Rahman ini memerlukan kerja sama erat banyak pihak. Tidak sekadar kemampuan intelektual semata yang diperlukan, tapi juga dedikasi dan kesungguhan dalam sikap penuh harap terhadap masa depan. Akhirnya, keraguan Toynbee kepada umat Islam dalam menghadapi modernisasi perlahan akan terjawab seiring adanya realisasi agenda masa depan Islam Fazlur Rahman. Inilah yang patut dipikirkan kembali.
