Hal yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya tren “Muslim Tanpa Label”. Generasi hari ini bisa saja mengadopsi gaya hidup disiplin ala kader Muhammadiyah sekaligus menikmati tradisi selawatan khas NU di YouTube, tanpa merasa perlu memiliki ikatan organisatoris (KTA) dengan keduanya.
Secara kultural, hibriditas ini mungkin tampak positif bagi persatuan. Namun secara organisatoris, ini adalah alarm bahaya. Tanpa ikatan struktural, proses kaderisasi akan mandek. Loyalitas mereka terhadap nilai moderasi yang diusung NU-Muhammadiyah menjadi rapuh karena mereka tidak merasa memiliki akar pada institusi tersebut. Mereka menjadi “konsumen agama” yang pragmatis, yang bisa berpindah haluan kapan saja sesuai tren yang ditiupkan oleh algoritma media sosial yang fluktuatif.

Menembus Gema Ruang Digital
Untuk tetap relevan, NU dan Muhammadiyah harus berani melakukan dekonstruksi cara berkomunikasi. Digitalisasi bukan sekadar memiliki akun YouTube atau Twitter, melainkan tentang bagaimana memenangkan pertempuran ideologi di kolom komentar. Ormas harus memberikan ruang luas bagi “penerjemah budaya”—anak-anak muda yang paham esensi nilai-nilai keislaman klasik namun fasih berbicara dalam bahasa visual dan logika Gen Z.
Kita butuh narasi yang tidak hanya benar secara hukum fikih atau tajam secara intelektual, tapi juga menyentuh secara psikologis. Jika kedua organisasi ini gagal bertransformasi, mereka akan terjebak menjadi organisasi “tua” yang hanya dihormati secara formal dalam acara kenegaraan, namun ditinggalkan secara spiritual dalam keseharian generasi masa depan.
