Persoalannya, konten-konten instan tersebut sering kali lepas dari kontrol tradisi keilmuan yang dijaga ketat oleh kiai-kiai NU atau intelektual Muhammadiyah. Ketika ormas terlalu sibuk dengan urusan birokrasi internal atau politik nasional, ruang kosong di layar gawai anak muda diisi oleh narasi yang kadang dangkal, atau bahkan ekstrem, yang dikemas dengan bungkusan “hijrah” yang menggoda.
Jebakan Formalisme Digital

Kritik terbesar bagi kedua ormas ini dalam transformasi digital adalah terjebaknya mereka pada “formalisme”. Banyak akun resmi ormas masih berfungsi seperti papan pengumuman kantor: kaku, satu arah, dan penuh dengan foto seremoni pejabat organisasi. Mereka sekadar memindahkan konten luring (offline) ke daring (online) tanpa melakukan adaptasi budaya digital yang memadai.
Gen Z tidak sedang mencari pengumuman rapat atau foto bersalaman para tokoh. Mereka mencari solusi atas quarter-life crisis, kecemasan masa depan, hingga etika lingkungan dalam perspektif iman. Muhammadiyah dengan narasi “Islam Berkemajuan” dan NU dengan “Islam Nusantara” seharusnya bisa menjadi oase. Namun, jika pesan-pesan hebat itu gagal dikemas dalam narasi yang relatable dan cair, mereka akan tetap menjadi “barang mewah” yang hanya tersimpan di gudang pustaka, tak tersentuh oleh jempol generasi layar yang lebih memilih mengikuti “influencer dakwah” karena merasa lebih didengar.
Fenomena Muslim Tanpa Label
