Seperti masakan ibu. Kangen masakan ibu.
Itulah yang sering terasakan ketika saya berada di tempat-tempat yang jauh, jauh dari ibu, dan menemukan makanan yang begitu nikmat saat disantap. Baik dalam perbandingan maupun persamaan.

Begitulah seorang ibu, menanamkan hatinya, cintanya, kepada buah hatinya melalui makanan. Makanan yang untuk kali pertama dikunyah atau dilepih oleh anak-anaknya. Hingga mereka beranjak dewasa, ibu menyajikan semua makanan yang dimasaknya dengan hati –bukan gizi.
Setiap ibu akan mengasuh dan membesarkan semua anaknya dengan cinta, dengan kasih sayang tiada tara. Karena itu, dalam kondisi apa pun, setiap ibu akan menyajikan makanan terbaik untuk anak-anaknya. Terbaik dalam ukuran kemampuan dan kesanggupannya sebagai seorang ibu.
Mungkin saja ada seorang ibu yang belum mengenal istilah “gizi”. Tapi percayalah, setiap makanan yang disajikan untuk anak-anaknya berupa paket lengkap: makanan terbaik, disajikan dengan hati, dengan cinta, lengkap dengan jampi-jampi atau doa. Doa terbaik dari seorang ibu untuk buah hatinya. Doa yang paling didengar oleh Tuhan.
Begitulah ikhtiar seorang ibu memberikan asupan terbaik buat anak-anaknya. Bahkan, seorang ibu akan mengomel sepanjang waktu, atau harus bertengkar dengan suami, jika di rumah tak tersedia cukup bahan untuk membuat makanan terbaik bagi anak-anaknya.
Begitu totalitas seorang ibu mendedikasikan seluruh hidupnya untuk anak-anaknya. Bahkan sejak dalam pikiran pun, tak ada seorang ibu yang coba-coba menyajikan makanan beracun kepada anak-anaknya. Hanya orang gila yang punya pikiran seperti itu.
Karena itulah, ketika seorang anak sedang menyantap telur dadar atau nasih goreng atau sayur lodeh masakan ibunya, sesungguhnya yang sedang dikunyah dan ditelan bukan hanya telur dadarnya atau nasi gorengnya atau sayur lodehnya. Sejatinya, sang anak juga sedang mengunyah kasih sayang ibunya. Yang merasuk ke dalam tubuh sang anak juga cinta dan doa-doa sang ibu. Bukan sekadar makanannya.
Itulah kenapa, saya, dan juga mungkin banyak orang lain, hingga setua apa pun masih sering terbayang-bayang masakan ibu, makanan pertama yang dikenal di dunia ini. Saya masih sering membayangkan bagaimana ibu menyalakan tungku, dengan semburan napasnya, dengan mata berair, dengan tubuh berkeringat, untuk membuat masakan yang terbaik buat anak-anaknya. Dari zaman ke zaman.
Itulah yang membuat banyak orang seringkali kangen dengan masakan ibu. Rindu mencicipi rasa masakan ibu. Wajar jika ditanya soal makanan terbaik dan terenak, banyak orang akan merujuk pada masakan ibu. Bahkan ketika sang ibu sebagai “koki” sejati itu sudah begitu lama meninggalkan tungkunya. Tungku yang serasa abadi di hati anak-anaknya.
Maka, wahai penguasa, jika engkau hendak memberikan tambahan gizi kepada anak-anak negeri ini, kenapa tak kau titipkan saja kepada ibu mereka? Sebab, seorang ibu akan menyajikan semua makanan bergizi itu dengan hati, dengan cinta, dengan doa, bukan atas dasar kalkulasi untung-rugi –tersebab mereka teracuni.
Sumber foto: Kompasiana.com.
