Drama ini mengisahkan tentang Masyitoh, seorang sahaya dari Bani Israil yang bekerja sebagai penyisir rambut putri Firaun. Tanpa sengaja, ia mengucapkan nama Allah saat bekerja, yang membuat sang putri murka karena meyakini bahwa ayahnya, Firaun, adalah satu-satunya tuhan. Namun Masyitoh tetap teguh. Ia tidak menarik ucapannya dan menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak dapat disamakan dengan manusia.
Kisah menjadi semakin mendalam ketika Masyitoh menceritakan peristiwa itu kepada suaminya, Obed, dan tokoh agama bernama Pak Simeon. Keduanya mencoba menenangkan dan menguatkannya, meskipun dalam hati mereka pun diliputi ketakutan akan konsekuensi dari kejujuran tersebut.

Ketegangan meningkat saat Pendeta Kerajaan, Metufer, datang untuk mengonfirmasi laporan dari istana. Sekali lagi, Masyitoh tetap teguh dalam pendiriannya, walau ditawari pengampunan jika ia bersedia mencabut pernyataannya. Namun imannya tidak tergoyahkan. Akibatnya, Masyitoh bersama suami dan kedua anaknya Siteri dan Itamar dijatuhi hukuman mati.
Karakter Masyitoh diperankan dengan penuh penghayatan oleh pemeran utama, Helma, yang mampu menampilkan sosok wanita sederhana namun berani yang memilih mati demi mempertahankan kebenaran. Obed yang diperankan oleh Iqbal, sebagai sosok lembut namun ragu-ragu, yang menunjukkan dinamika emosional dalam menghadapi ujian keyakinan. Sementara Pak Simeon yang diperankan oleh Jaelani dan dua tokoh Bani Israil lainnya Amram dan Nadam yang diperankan oleh Cahya dan Revi memberi dimensi sosial yang menggambarkan tekanan terhadap komunitas minoritas dalam menghadapi tirani.
“Aku tahu risikonya, tapi hatiku tak mampu berbohong. Allah adalah Tuhanku, bukan Firaun, bukan manusia.” Begitulah keteguhan hati Masyitoh.
