Maulid Nabi dan Aktualisasi Keteladanan di Era Digital

Di era millenial ini di antara keteladanan harus kita aktualisaiskan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya bersikap toleransi, membangun kedamaian, berlapang dada, dan menjaga persatuan antarsesama. Nabi saw selalu mewasiatkan kepada sahabat dan keluarga untuk saling memaafkan satu sama lain. Suatu ketika Umar bin Khathtab menangkap seorang musuh yang ingin membunuh Rasulullah, dan begitu Nabi memperoleh laporan tersebut, Nabi melihat seorang laki-laki yang terikat di sebuah pohon dalam keadaan kehausan dan kelaparan. Nabi langsung memerintahkan kepada Umar, agar orang tersebut diberikan minuman dan makanan. Sehingga membuat Umar dan para sahabat lainnya terkejut keheranan.

Ribuan Santri Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga Berzikir Malam Kelahiran Rasulullah Saw di Masjid Po Teumeureuhom Samalanga

Umar bertanya, “Ya, Rasul, kenapa kita harus memberinya makanan, padahal orang ini jelas-jelas tadinya sebelum saya tangkap, ingin membunuhmu ya, Rasul!” Lalu Rasul dengan bijak menjawab, “Sekarang dia bukan musuh kita lagi, karena itu berilah dia makanan!”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah laki-laki itu selesai makan, Umar bertanya akan diapakan musuh itu. Dan di luar dugaan para sahabat, dengan kelembutannya Nabi memerintahklan Umar untuk melepaskan dan menyuruh pulang laki-laki itu. Namun yang terjadi kemudian adalah, laki-laki yang menjadi musuh dan ingin membunuh Nabi itu, akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadat. Laki-laki itu memeluk agama Islam sama sekali tanpa dipaksa Rasul.

Dan berbagai contoh lainnya, di mana Nabi saw mengedepankan sikap persuasif dan kelembutan sebagai ciri khas dalam berdakwah.Jika Rasul saja dalam banyak peristiwa lebih mengedepankan sikap rekosiliansi, toleransi, saling menghargai dan memaafkan.

Beranjak dari paparan di atas, hendaknya momentum bulan maulid kita jadikan bulan reaktualisasi kembali akhlak dan perilaku Rasulullah Saw di era millenial ini. Masih ada di antara kita saat ini tetap terus mengedepankan sikap egoisme, permusuhan, intoleran, dan saling menghasut satu sama lain. Tentunya terlalu naif rasanya jika kita yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad ini, namun dalam kesehariannya nilai-nilai keteladanan, keluhuran moral, akhlak, dan etika dalam keseharian kita nyatanya masih jauh dari apa yang dicontohkan Nabi saw. Lantas kita sudahkah meneledani akhlak Rasulullah SAW?

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.

Tinggalkan Balasan