Padahal, pesan Islam tentang kesederhanaan sangat jelas. Rasulullah SAW mengingatkan, “Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari). Allah pun menegaskan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286).
Jika kita membaca maulidan melalui kaca mata maqāṣid syarī‘ah, maka tradisi yang justru memicu tekanan finansial dan menumbuhkan iri hati jelas melenceng dari prinsip maslahat. Syariat hadir untuk menjaga harta (hifẓ al-māl) dan kehormatan (hifẓ al-‘irḍ), bukan untuk mengorbankannya demi status sosial.

Kaum yang berkecukupan sebenarnya memegang peran penting. Ketika memilih merayakan maulid dengan sederhana, mereka sedang menunjukkan bahwa kemuliaan maulidan tidak diukur dari panjangnya daftar menu, melainkan dari kedalaman zikir dan selawat. Berkah tidak lahir dari pesta mewah, melainkan dari hati yang rela memberi tanpa beban. Justru, makna sejati dari rebutan buah atau tabur uang adalah berbagi dengan gembira, bukan mempertontonkan kekayaan.
