Bulan Rabi‘ul Awal di Bangkalan selalu membawa warna yang khas. Lantunan selawat dari surau-surau kecil berpadu dengan dentang beduk magrib di Masjid Agung kota, menandai datangnya musim maulidan.
Di kampung-kampung, suasana terasa semarak: laki-laki khusyuk membaca kitab maulid, perempuan sibuk di dapur, dan anak-anak menunggu acara rebutan buah atau tabur uang dengan tawa riang. Semua ini adalah potret cinta kolektif yang telah diwariskan turun-temurun.

Namun di balik gegap gempita itu, ada sisi lain yang lebih getir. Di banyak tempat, perayaan maulid berubah menjadi panggung gengsi. Jamuan besar-besaran disulap melebihi resepsi pernikahan. Berkat berlapis-lapis disajikan, bahkan ada yang rela berutang demi “tidak kalah” dari tetangga. Cinta Rasul memang mulia, tetapi ketika ia dibebani gengsi, makna spiritualnya perlahan terkikis.
