مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ .ومَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Menurutnya, intisari dari hadis tersebut adalah orang yang mengerjakan sunah yang baik akan mendapat pahala dan pahala orang lain yang mengamalkannya. Orang yang melakukan sunah buruk akan mendapat dosa serta dosa orang lain yang melakukannya.

“Selama perbuatan itu baik dan tidak bertentangan dengan syariat, maka tidak masalah untuk dilakukan,” tegas beliau lagi.
Tidak luput dari pembahasan beliau adalah hadis Nabi:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Yang dimaksud dengan perbuatan yang ditolak ini adalah perbuatan yang tentunya bertentangan dengan syariat Islam,” imbuh beliau.
Syaikh Fadi Fuad menerangkan pula bahwa Imam Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua macam, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Sedangkan Imam Nawawi membagi bid’ah menjadi lima, yaitu: wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.
