Pondok pesantren, lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang pendiriannya diinisiasi oleh masyarakat, dikenal memiliki beragam tradisi yang khas dan unik. Budaya keislaman di pesantren menjadi keunikan dari orang-orang yang ada di dalam pesantren tersebut.
Selain tradisi sorogan, bandongan, roan, sarungan, antre, dan lain sebagainya, pondok pesantren juga memiliki tradisi makan besama di nampan. Selain di Indonesia, makan bersama ini telah menjadi tradisi dalam budaya Arab. Makan di nampan ini biasa disebut dengan istilah “mayoran”.

Budaya mayoran di kalangan santri ini dianggap sebagai langkah mengakrabkan atau mendekatkan para santri. Sebagaimana diketahui bahwa santri tidak hanya berasal dari daerah yang sama. Ditemukan banyak pesantren yang santrinya berasal dari berbagai daerah. Pesantren disebut juga sebagai miniature religius skala terkecil dari suatu bangsa.
Mayoran adalah tradisi santri makan bersama di wadah yang bundar ataupun kotak yang di sebut nampan. Nampan atau baki tersebut biasanya terbuat dari plastik, kayu, logam, dan bahan lainnya. Terkadang jika tidak ada nampan, para santri yang terkenal dengan tradisi hidup sederhana akan makan bersama di atas daun pisang yang panjang. Hal ini menurut mereka nikmat-nikmat saja. Nilainya bagi santri yang terpenting bersama siapa ia makan, bukan tentang apa. Makan bersama bersama teman-teman dengan banyak tangan tentu terasa nikmat. Ada kesan rebutan yang membuat para santri greget.
