Sesekali, Mbah Buya memberikan argumentasi epistemologis atas berdirinya pesantren. Itu tergambar dari visi-misinya, menjadikan Pondok Pesantren al Ishlah sebagai institusi pendidikan dan pengajaran yang berkualitas dalam rangka tafaquh fi addin (center for excellence in teaching and education for all) dan tempat perjuangan fi sabilillah untuk meninggikan firman Tuhan.
Dalam perjalanannya, Mbah Buya dengan dibantu para gus dan ning, mengajarkan bagaimana menjadi santri yang ideal, yang tidak jumud dalam menyikapi perbedaan maupun dinamika zaman. Santri dengan tetap menjaga kesederhanaannya, didorong mampu untuk mengoptimalkan peran serta akses yang dimiliknya bagi kemajuan umat tanpa meninggalkan substansi dari nilai-nilai yang diajarkan dari pengajian Mauidhotul Mu’minin. Tidak jarang, Mbah Buya mendeskripsikan bagaimana peran santri menghadapi para penjajah maupun peran santri dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kalimat fauqo al ilmi al akhlak wa al adab harus dijadikan pegangan bagi santri menuntut ilmu. Saya baru paham adigium tersebut mengajari kita untuk tetap menjunjung tinggi akhlak dan adab kepada manusia secara umum, walaupun ilmu kita sudah melangit.
Misi ini selaras dengan yang diimplementasikan Kanjeng Nabi dalam menyebarkan misi dakwah Islam di Makkah. Betapa mulianya akhlak dan kepribadian Kanjeng Nabi dalam membentuk pola pikir masyarakat Arab. Oleh sebab itu, Mbah Buya pun mengedepankan pentingnya pendidikan akhlak dalam mendidik santrinya, yang dirumuskan menjadi panca jiwa, dan harus menjadi prinsip kolektif santri Al Islah.
Konsep nilai panca jiwa yang ditanamkan Mbah Buya ini meliputi, pertama, jiwa keikhlasan. Bagi saya dan teman-teman seangkatan, poin pertama sangatlah kuat efeknya karena Mbah Buya sendirilah yang mengajarkan secara teoretis-praksis tentang konsep ikhlas. Ikhlas menjalankan segala aktivitas santri selama di pesantren dengan menahan segala dorongan nafsu duniawi. Godaan untuk mengikuti arus modernitas era 2010 saat itu sangat deras bahkan tidak sedikit santri harus boyong hanya tergoda dengan nikmatnya lingkungan kota.
