Kedua, jiwa kesederhanaan. Ketiga, jiwa kesanggupan menolong diri sendiri/berdikari. Keempat, jiwa ukhuwah Islamiyah dan Ukhwah Basyariyah. Kelima, jiwa bebas (bebas dalam berpikir, tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif).
Dalam pada itu, eksistensi panca jiwa santri Al-Ishlah berjalan sinergis dengan prinsip metode pembelajaran yang menjadi lokus utama dewan guru dalam mengamalkan ilmu. Guru tidak hanya mengajar an sich sesuai spesifikasi keilmuan yang diperoleh. Tetapi, harus menanamkan suri tauladan serta memprioritaskan transfer of value kepada santri. Para dewan guru diberikan bekal oleh Mbah Buya dalam mengejewantahkan pendidikan yang mempunyai orientasi yakhsya Allah (takut kepada Allah), seperti yang diekspektasikan oleh KH Ahmad Thohawi Hadin, putra sekaligus pemangku Pesantren Al-Ishlah sekarang.

Beberapa prinsip yang diformulasikan oleh KH Ahmad Maimun Adnan adalah, pertama, mendidik dengan memberi contoh yang baik. Kedua, mendidik dengan cara membiasakan yang baik. Ketiga, mendidik dengan cara memberikan nasihat dan bimbingan. Keempat, mendidik dengan cara mengawasi. Kelima, mendidik dengan cara memberikan hukuman atas suatu kesalahan yang diperbuat.
Oleh karenanya, konsep pendidikan menjadi prioritas utama mengembangkan amanah suci dari Mbah Buya tanpa menegasikan proses yang dijalaninya. Tidak berlebihan jika saya katakan, pendidikan di Pesantren Al-Ishlah sebagai pendidikan karakter yang menekankan pada sisi kesederhanaan atau tentang pentingnya kesalehan sosial yang sejak lama diimpikan oleh Mbah Buya dalam pengajian maupun halaqoh ilmiahnya. Wallahu A’lam.
