Mbah Ma’shum, Tarekat Mencintai Kaum Miskin

Rupanya, meskipun telah menjadi ulama besar dan sangat berpengaruh, penampilan Mbah Ma’shum tak pernah berubah. Tetap bersahaja dan zuhud. Bahkan, kiai besar ini termasuk jarang mengenakan peci haji atau sorban —yang sering dianggap sebagai simbol keulamaan.

Yang menarik, meskipun tercatat sebagai pendukung pembentukan dan kemudian menjadi salah satu petinggi Jam’iyyah Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah, organisasi tarekat di lingkungan NU, Mbah Ma’shum justru terlihat tak pernah mengamalkan praktik ajaran-ajaran tarekat atau berdzikir berlama-lama seperti amaliah tarekat pada umumnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu muridnya, Abrori Akhwan, pernah menceritakan kisah unik. Saat masih menjadi santrinya, ia diminta memijit Mbah Ma’shum. Sambil memijit, dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa kiai besar ini tak pernah mengenakan peci haji atau sorban dan mengamalkan ajaran-ajaran tarekat.

Betapa kagetnya Abrori Akhwan saat Mbah Ma’shum menjawab pertanyaannya yang masih tersimpam di dalam hati itu. “Seorang kiai tidak harus menggunakan peci haji atau sorban,” kata Mbah Ma’shum yang membuat santrinya kaget.

Sesaat kemudian, Mbah Ma’shum melanjutkan ucapannya. “Berdzikir kepada Allah bisa dilakukan langsung secara praktik, seperti misalnya kita mengajar atau menolong orang. Tidak harus dalam waktu lama dengan beberapa bacaan tertentu. Saya sudah menggunakan tarekat langsung dari Kanjeng Nabi Muhammad, hubb al-fuqara wa al-masakin, yaitu mencintai kaum fakir miskin.”

Tinggalkan Balasan