(Sebagai informasi, saat kita mencari “KH Abdul Halim” di mesin Google, maka paling tidak akan ada dua tokoh yang muncul. Uniknya, kedua tokoh itu sama-sama berasal dari Majalengka dan lahir di akhir abad ke-19. Pertama adalah KH Abdul Halim, seorang tokoh pergerakan nasional, anggota BPUPKI, dan pada 2008 lalu dianugerahi “Pahlawan Nasional” oleh pemerintah. Sementara, yang kedua adalah KH Abdul Chalim yang menjadi pembahasan di sini. Sependek penulusuran saya di media digital, informasi tentang kedua kiai ini kerap tertukar dalam beberapa hal. Jika tidak cermat, cukup runyam untuk memilahnya dengan tepat.)
Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahab merupakan kitab beraksara pegon yang ditulis oleh Kiai Chalim dalam bahasa Indonesia di tahun 1970, dua tahun sebelum kewafatannya. Kitab itu ditulis dalam bentuk syiir bahar rojaz, untuk memudahkan “anak-anak” dalam mempelajarinya. Secara umum, kitab tersebut membahas Kiai Wahab, mulai dari riwayat hidup, keluarga, keteladanan, hingga perjuangan di organisasi. Juga pembahasan NU di masa awal berdirinya.

Kiai Wahab, menurut Kiai Chalim, adalah guru yang tak lelah berjuang. Meski lebih muda 10 tahun, Kiai Chalim merasa kurang mampu mengikuti pergerakan Kiai Wahab. Kiai Wahab tak pernah marah, hanya terkadang keras demi cita-cita yang ingin dicapainya. Dalam kegiatan sehari-hari, Kiai Wahab tidak terbiasa tidur siang, tidak punya pola waktu makan tertentu, dan gemar berdebat jika diajak. “Sangat gemar beliau mengolah otak,” tulis Kiai Chalim. Dan, salah satu referensi argumen debat yang sering digunakan Kiai Wahab adalah Fathul Mu’in.
Di dalam kitab tersebut pula, Kiai Chalim kerap menyebut tokoh-tokoh yang masih terkait dengan Kiai Wahab, yang jarang disebutkan. Semisal siapa gurunya dalam berdebat, siapa teman-temannya dalam bergiat pencak silat, siapa yang pernah mengasuhnya di pesantren tertentu, dan lain sebagainya. Bahkan dalam kaitannya dengan NU, Kiai Chalim secara cermat menuliskan siapa saja yang sering datang ketika Muktamar NU, siapa orang-orang struktural keorganisasian NU, juga orang yang mengantar NU ke daerahnya masing-masing.
Bagi saya sendiri, informasi sejarah yang berharga dari kitab tersebut adalah detail-detail kecil yang rawan terlewat; yang barangkali sulit ditangkap kecuali oleh orang dekat semacam Kiai Chalim.
