Baca saja di sana, betapa teguh ketaatan Kiai Wahab dengan pengakuannya bahwa beliau hanya Wazir bagi KH Hasyim Asy’ary. Sementara di sisi lain, Kiai Chalim pernah diberitahu bahwa Kiai Hasyim sebenarnya merasa kasihan melihat Kiai Wahab “ditendang sana-sini” saat memperjuangkan cita-citanya. Dengan ini, Kiai Chalim adalah saksi bagaimana keteladanan yang mengharukan terjalin dalam hubungan guru-murid itu.
Contoh lainnya, untuk sebut beberapa, ternyata Kiai Wahab lebih sering menyendiri ketika mengaji di Tebuireng. Betapa “karomah” KH Hasbullah mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara kuda dan kusir saat mengantarkan Kiai Wahab mondok ke Langitan. Dalam kaitannya dengan NU, kita menjadi tahu bahwa Hizb Nashar juga menjadi senjata ketika berperang melawan Belanda. Atau kenyataan bahwa dapur umum muktamar dulunya murni dipegang para lelaki, ketika belum ada anggota wanita.

Detail-detail semacam ini yang bisa membuat kita, golongan yang tak pernah hidup sezaman dengan mereka itu, dapat melihat para leluhur secara lebih utuh dan nyata. Tak berlebihan jika saya katakan bahwa dengan membaca kitab tersebut, kita dibawa Kiai Chalim untuk melihat Kiai Wahab dan NU dari dekat, dekat sekali.
Referensi:
Tim Walikutub Saklusin 12. (2020). Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahab. CV Jejak.
