MBG dan Kesalahan Prioritas Negara

Guru-guru tidak bercerita, tetapi hatinya berdarah. Begitulah kira-kira perasaan kolektif guru-guru (honorer) ketika menyaksikan rentetan lelucon di negeri ini.

Salah satu lelucon yang paling menggelitik, sekaligus memilukan, adalah Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Pengangkatan Pegawai SPPG MBG sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bukan pengangkatan pegawai SPPG yang dipersoalkan. Tetapi, ini soal kejanggalan prioritas negara.

Seperti disinggung oleh seorang akademisi sekaligus pengamat politik, Rocky Gerung bahwa, negara tampak mampu menggaji petugas-petugas MBG dengan layak, tetapi gagal menggaji guru honorer secara manusiawi.

Lihatlah anggaran pendidikan untuk 2026, yang berjumlah sekitar Rp757,8 triliun. Ternyata, hampir setengahnya dialokasikan untuk program MBG yaitu; Rp3355 triliun (BBC News Indonesia, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa persoalan kesejahteraan guru bukan terletak pada ketidakmampuan negara. Akan tetapi, terletak pada keinginan untuk terus menunda nasib guru-guru.

Core System vs Support System

Michael Porter, dalam konsepnya value chain (rantai nilai), mengungkapkan bahwa terdapat dua unsur dalam sebuah sistem, yaitu: core system dan support system. Core system adalah unsur paling pokok, yang menentukan hidup-matinya sebuah sistem. Sementara, support system adalah bagian pendukung, untuk menopang sebuah sistem.

Dalam konteks pendidikan kita, maka guru adalah core system, sementara program MBG dan seluruh yang bertalian dengannya adalah support system.

Tetapi, yang terjadi pada pendidikan kita hari ini, support system justru diperlakukan lebih istimewa daripada core system. Guru dibiarkan hidup dalam ketidakpastian, sementara petugas-petugas MBG mendapatkan jaminan kesejahteraan hidup.

Padahal, kita tahu bahwa guru adalah garda terdepan dalam seluruh proses pendidikan. Mereka mengabdikan dirinya, bertahun-tahun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara, program MBG hanyalah instrumen pendukung, yang baru hadir belakangan ini. Tetapi, MBG itu seolah lebih penting daripada guru. Petugas-petugasnya dijamin kesejahteraan hidupnya. Sementara guru berada dalam ketidakpastian penghidupan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan